Laman

Laman

Rabu, 19 November 2014

24 CPNS Bermasalah Tak Perlu Tes Ulang

AMLAPURA – Sebanyak 24 orang CPNS 2013 yang dulu dinyatakan bermasalah oleh Kementrian Pemberdayaan Aparatur Negara (KemenPan) akhirnya tidak perlu mengikuti tes ulang. Keputusan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Karangasem, Gede Adnya Muliadi yang mengaku beberapa hari lalu mendapatkan surat dari MenPan kalau 24 CPNS yang bermasalah tersebut sudah diserahkan ke daerah untuk dilakukan tes interview (wawancara). “Kami sudah terima surat dari MenPan untuk 24 CPNS yang tadinya bermasalah itu sekarang intruksinya tidak perlu melakukan tes ulang, kami diperintahkan oleh MenPan untuk melakukan tes interview” ujar Adnya Muliadi, Selasa (18/11) kemarin. 
Pihaknya mengaku segera menyiapkan tim teknis bekerjasama dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Karangsem untuk mepersiapkan pelaksanaan tes interview. “Kami masih akan membetuk tim teknis untuk melakukan tes interview, kami juga masih perlu konsultasikan materi apa yang diberikan saat tes interview tersebut” ujarnya. Disampaikan bahwa kemungkinan untuk tidak lulus tes interview tetap ada jika nanti yang bersangkutan tidak memenuhi salah satu kreteria jawaban dari tim panitia yang berikan. “Nanti kalau misalnya yang bersangkutan tidak bersedia untuk ditempatkan di mana saja di seluruh Kabupaten Karangasem dan tidak mau dalam jangka waktu tertentu untuk tinggal di Karangasem, ya bisa jadi tidak lulus, kami ini kekurangan tenaga PNS, kalau baru sekian tahun sudah minta pindah kami akan terus kekurangan PNS” ungkap Adnya Muliadi.
          Dengan demikian sebayak 24 orang yang dulu khawatir akan nasibnya batal jadi PNS sehingga sempat dua kali mesadu ke Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg akhirnya mendapatkan angin segar. Mereka dulu bermasalah karena dicurigai oleh MenPan melakukan rekayasa dan atau kerjasama karena nilai yang diraihnya sama percis yaitu dengan skor 464. Kejanggalan terjadi dimana hasil tes yang dibagi kedalam tiga jenis tes yaitu TKP (tes karakteristik Pribadi), TIU (tes Intelegensia umum), TWK (tes wawasan Kebangsaan) tersebut ternyata semuanya bernilai sama. Nilai para peserta pada TKP yaitu 176, nilai pada TIU yaitu 136, dan Nilai TWK yaitu 152. Hal itu terjadi pada pelamar guru SD sbanyak 7 orang, guru penjas 9 orang, guru matematika 2 orang, guru Bahasa Indonesia 5 orang, dan guru PPKN 1 orang. 
         Bahkan yang lebih mencurigakan lagi ternyata pada lembar jawaban dari hasil tes tersebut juga sama, dimana para peserta menjawab pada option yang sama baik pada jawaban yang benar maupun jawaban yang salah. Kendati demikian, pihak dari 24 pelamar yang sempat dinyatakan lulus tersebut menolak melakukan tes ulang seperti awal yang diusulkan oleh menpan. Berkat penentangan atau penolakan tes ulang yang difasilitasi dengan surat dari Bupati Geredeg ke MenPan akhirnya 24 orang yang sempat bermasalah tersebut hanya akan mengikuti tes interview yang dilaksankan paling lambat Desember 2014. Sehingga yang bersangkutan bersama 117 CPNS 2013 lainnya sudah bisa bertugas mulai Januari 2015 mendatang.

Selasa, 18 November 2014

200 Hektare Sawah Kekeringan, Subak Bekukih Tuntut PDAM Buka Saluran Irigasi

AMLAPURA – Krama Subak Bekukih di Dusun Bias, Desa Ababi, Kecamatan Abang, Karangasem menuntut kepada PDAM Karangasem agar kembali mengalirkan air ke pipa irigasi yang mengaliri sawahnya. Warga Subak tersebut mengaku sudah hilang batas kesabaran sejak tahun 2007 air yang semestinya dialirkan ke sawah-sawah mereka malah dikomersilkan ke daerah lain sehingga sawah yang luasnya lebih dari 200 hektare tersebut menjadi kekeringan. Warga bahkan mengaku sudah beberapa kali “digantung” oleh pihak PDAM ketika menanyakan permasalahan tersebut sampai akhirnya warga berinisiatif mengandakan pertemuan dengan direktur PDAM untuk mendengarkan keluhan warga. 
Warga mengancam akan melinggis reserfoar Blegondang yang terletak di Dusun Bias, Desa Ababi jika tidak ada pihak dari PDAM yang datang menemui warga. Pertemuan antara krama subak Bekukih dengan PDAM pun berlangsung di Dusun Bias, Desa Ababi, Kecamatan Abang, Senin (17/11) kemarin yang juga dihadiri oleh Perbekel Desa Ababi, Ketut Sujana. Namun sayang direktur PDAM, I Gede Baktiayasa yang diharapkan untuk datang berhalangan hadir, pihaknya hanya mewakilkan stafnya untuk bertemu dengan Warga.
           I Ketut Semadiyasa yang merupakan perwakilan warga subak menyampaikan bahwa 212 krama Subak Bekukih selama ini sudah terlalu sabar menunggu realisasi dan janji dari pihak PDAM untuk mengalirkan air ke areal sawah-sawah krama subak Bekukih. Semadiasa yang juga wakil ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Ababi tersebut menyampaikan bahwa reserfoar air Blegondang yang berada di wilayahnya dulu mengaliri sawah mereka dengan baik. Masalah baru muncul ketika ada sambungan pipa baru yang diminta oleh Bupati Wayan Geredeg untuk mengalirkan air ke wilayah Seraya, Kecamatan Karangasem. “Dulu kami berikan air itu (Air Blegondang) dibagi ke wilayah Seraya karena kami memiliki rasa kemanusiaan untuk membantu masyarkat Seraya yang kekeringan” ujarnya. Namun belakangan diketahui ternyata air Blegondang tersebut tidak mengalir ke Seraya namun malah dialirkan ke wilyah kota Karangasem untuk kepentingan bisnis PDAM. “Belakangan kami tahu ternyata air (Blegondang) tidak dialirkan ke Seraya tapi dikomersilkan untuk ke wilayah Kota, ini kan sudah lepas dari esensi kemanusiaan tapi orientasi bisnis” ungkapnya.
         Keliang subak Bekukih, Ketut Dana menyampaikan ternyata penyebab subak mereka tidak mendapatkan air karena PDAM yang menyegel aliran air ke subak mereka. Sebab dirinya bersama krama subak sempat mengecek ke DAM Reserfoar Blegondang ternyata air pipa ke subak bekukih disegel sehingga aliran airnya tertutup. “Kami awalnya menduga ada sedimen atau endapan yang mengganjal di pipa sehingga air tidak mengalir, namun setelah kami buka segel dengan paksa ternyata air mengalir artinya air yang mengalir ke pipa kami (pipa subak) memang sengaja ditutup” ungkapnya. Oleh karena itu, pihaknya mewakili warga agar secepatnya PDAM kembali mengalirkan air ke sawah-sawah mereka karena sudah memasuki musim tanam. “Kami minta kembali agar air yang mengaliri pipa untuk subak kami dibuka kembali, kami beri waktu 4 hari, kalau ini tidak ditanggapi kami terpaksa mencari cara lain kami akan menghadap Bupati karena dulu beliau yang berjanji memberikan kami satu pipa sehingga kami setuju untuk air blegondang disedot dan dialirkan ke Seraya” jelasnya. Pihaknya tidak ingin seperti ayam yang mengeram di lumbung padi namun harus mati kelaparan sementara ayam-ayam di luar malah hidup senang menikmati padi di lumbung. “Sangat tidak adil jika kami yang tinggal di wilayah yang memiliki air namun harus kekurangan air karena air malah dibawa ke daerah lain” ujarnya.
        Sementara itu, dari pihak PDAM yang bertemu dengan warga adalah Kabag Administrasi Umum PDAM Karangasem, Ni Putu Dharmawati, Kepala Seksi Seksi Produksi PDAM Karangasem, Budi Utomo. dan Kepala PDAM unit Abang, Wayan Parsa.  Kabag Administrasi Umum PDAM Karangasem, Ni Putu Dharmawati menyampaikan pihaknya belum bisa memberikan keputusan apapun kepada warga karena masih perlu melakukan koordianasi dengan pimpinnya yaitu direktur PDAM. “Maaf karena pak direktur masih ada tugas teknis di denpasar nanti masukan bapak-bapak akan saya sampaikan kepada beliau” ujarnya. Sementara Wayan Parsa memberikan jawaban yang lebih memberikan penjelasan kepada warga bahwa warga tidak mendapatkan air karena memang debit air yang menurun. “Kondisi debit air sekarang sudah menurun dari awalnya 40 liter perdetik sekarang masih 12 liter perdetik” ujarnya. Pihaknya pun tidak bisa sertamerta memenuhi tuntutan warga untuk mengalirkan air ke subak karena jika itu dilakukan maka pelanggan yang ada di Ababi dan Kota Karangasem akan kekurangan air. “Kami seperti memakan buah simalakama, Kalau air ke pipa Subak kami alirkan pelanggan kami yang mati, kalau pipa ke pelanggan kami alirkan maka bapak selaku warga subak yang mati” ujarnya. Pihaknya pun mengaku masih memikirkan solusi yang terbaik untuk mengatasi masalah ini. Pihaknya menyanggupi tuntutan warga dalam waktu 4 hari akan memepertemukan dengan direktur PDAM, I Gede Baktiyasa.

Budidaya Pepaya Prospek Pertanian Menjanjikan

AMLAPURA – Memanfaatkan potensi alam pertanian secara maksimal memang diperlukan untuk memajukan kualitas hidup para petani. Untuk itu diperlukan terobosan dalam pertanian baik dari segi komoditi pertanian maupun cara pengolahan lahan pertanian agar hasilnya lebih profitable. Seperti halnya progresitifitas pertanian yang dilakukan di Dusun Waliang, Desa Abang, Kecamatan Abang, Karangasem yang melakukan budidaya tanaman pepaya Calina. Penanaman pepaya yang dikenal dengan buah tebal dan rasa yang manis itu adalah inisiatif seorang petani asal Waliang yang bernama Dewa Gede Ngurah (55). 
Dewa Gede mengaku menanam papaya calina dari tahun 2010. Adanya keinginan menanam pepeya tersebut diakuinya atas arahan dan ajakan seorang pegawai dari dinas pertanaian kecamamtan Abang. “saya yang pertama menanam papaya calina di sini karena ajakan dari seorang pegawai dinas pertanian kecamatan Abang” Ujar Dewa Gede Ngurah saat ditemui di kebun pepayanya, Selasa (29/7) kemarin. Sebelum menanam papaya, Dewa mengaku awalnya di ladangnya ia menanam ubi jalar dan singkong. Ternyata hasil dari menanaman singkong dan ubi jalar di lahan seluas 700 M2 miliknya tersebut ternyata tidak maksimal dan dinilainya kurang mampu membantu meningkatkan ekonomi keluarganya. “Hasil menanam papaya jauh lebih baik daripada menanam singkong dan ubi jalar” akunya. Kini langkah gerak bapak 4 anak yang memiliki sekitar 125 pohon pepaya tersebut diikuti oleh masyarakat di dusunnya. Bahakan Dewa juga mensuplay bibit pepaya calina untuk masyarakat di luar Desa Abang yang punya keinginan untuk menanam pepaya calina. “Banyak juga dari luar desa yang mencari bibit pepaya di sini untuk ditanam di desanya” Akunya.
       Menanam pepaya diakuinya sebagai sesuatu yang tidak sulit dilakukan. Untuk masalah penanaman dan perawatan tidak terlalau memutuhkan tenaga ektra kecuali dalam waktu masa pembibitan yang memang agak rentan mati apabila kurang perawatan. Bibit yang dalam bentuk biji perlu dicampur abotil semacam obat perangsang tumbuh akar agar cepat tumbuh. Untuk itu disarankan lebih baik untuk pemula agar bibit yang dipakai dibeli yang sudah jadi biar bisa langsung tanam.
         Dewa menyampaikan hal lain yang perlu dipersiapkan adalah penggalian lubang 1x1,5 meter dengan kedalaman 1 meter. Sebelum bibit ditanam lubang diisi dulu dengan pupuk kandang yang dicampur dengan tanah penggalian dengan komposisi 1:3 atau menggunakan ukuran 3 bak arko pupuk kandang. Bibit ditanaman setelah berumur kurang lebih satu bulan. Jarak penanaman satu pohon dengan pohon lainnya 2,5 meter. Sebaiknya dibuat gundukan tanah dengan untuk menghindari air menggenang pada batang papaya saaat musim hujan. “Perlu dibuatkan gundukan agar batang tidak terendam air kalau hujan supaya batangnya tidak keropos” ungkapnya.
       Sementara untuk masa panen disampaikan bahwa sudah bisa dilakukan setelah pepaya calina berumur 7 bulan. Masa panen berlangsung selama 2-3 bulan dengan rata-rata panen perpohon 1-2 butir per 3 hari. Usia produktif bisa mencapai 5 sampai 6 tahun tergantung perawatan. Sementara untuk penjualan buah tidak dilakukan perbiji tapi memakai ukuran massa. Dewa menyampaikan untuk 1 kg dihargai Rp.7000 rupiah.  Dirinya mengaku tidak kesulitan untuk melakukan penjualan sebab sudah ada pembeli yang bahkan langsung datang ketempatnya. “Sudah ada agen yang langsung datang kesini, kami masih kekurangan produksi untuk melayaninya” ujarnya seraya mengajak masyarakat lainnya untuk berbudidaya pepaya calina.

Umat Hindu dari Negara Medana Punia Rp.109.270.000 untuk Pura Pasucian Ida Betara Kahyangan Jagat Toya Sah Telaga Dwaja

AMALAPURA – Tingginya peran serta masyarakat dalam melakukan yadnya dalam bentuk dana punia untuk pembangun pura di Bali sangatlah tinggi. Para umat yang memang benar-benar memahi konsep medana punia untuk kepentingan parhyangan yang berhubungan dengan Ida Sang Hyng Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa maka mereka tidak akan segan-segan menyisihkan sedikit penghasilannya untuk berpunia. Umat yang sadar tersebut itu tidak memandang wilayah ataupun lokasi dimana pura itu dibangun asalakan pura yang dibangun adalah kahyangan jagat yang artinya pura milik seleuruh umat maka pasti akan ikut berpartisifasi berdana punia. 
Seperti halnya antusiasme masyarakat dari Kabupaten Negara dalam melakukan dana punia untuk pembangunan di Pasucian Ida Betara Kahyangan Jagat Pura Toya Sah Telaga Dwaja yang terletak di Desa Muncan, Kecamtan Selat, Kabupaten Karangasem. Umat dari bumi makepung yang diwakili oleh ketua Majelis Madnya Desa Pakraman (MMDP) Kabupaten Negara, Gusti Putu Wiasa menyerahkan dana punia senilai Rp.109.270.000 kepada panitia pembangunan Pura Toya Sah Telaga Dwaja, Minggu (16/11) kemarin. Dalam menyerahkan dana punia tersebut Gusti Putu Wiasa didampingi oleh ketua Majelis Alit Desa Pakraman (MADP) Kecamatan Melaya, Ida Made Sekar, ketua MADP Kecamatan Negara, Nengah Subagia, MADP Kecamatan Jembrana, I Nyoman Suara, MADP Kecamatan Mendoyo, I Made Sarka, dan MADP Kecamtan Pekutatan, Gusti Kadek Wenia. Rombongan dari Negara yang membawa punia itu diterima oleh Ketua Panitia pembangunan pura Toya Sah Telaga Dwaja, Jero Mangku Puasa dan panitia bagian teknik, I Made Nadi Wiranata.
        Gusti Putu Wiasa menyampaikan bahwa antusiasme umat di Kabupaten Negara untuk melakukan yadnya berupa dana punia cukup tinggi. Disampaikan masyarakat Negara yang mayoritas memang beragama hindu tersebut dengan suka rela membeli lembar dana punia dengan pedaksinan (berhadiah) yang sebelumnya diberikan oleh panitia pembangunan pura. “Masyarakat kami (Negara) memang memiliki antosiasme tinggi untuk medana punia apalagi untuk pura Kahyangan Jagat” ujarnya.
       Sementara itu, Jero Mangku Puasa mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat yang berada di Negara terlebih kepada para romobongan yang sudah ikut berpartisifasi untuk berdana punia untuk pembangunan pura Pesucian Toya Sah Telaga Duaja. Jero Mangku menyampaikan bahwa panitia membutuhkan dana Rp.4,5 Miliar untuk membagun Tahap I Pesucian Ida Betara Kahyangan Jagat Pura Toya sah Telga Dwaja berupa bangunan pura, telaga petirtaan dan tembok penyengker. Disampaikan bahwa panitia yang menggalang dana lewat dana punia dengan pedaksinan (berhadiah) mengharapkan akan terkumpul dana untuk melanjutkan pembangunan pura sehingga bisa selesai dikerjakan tahun 2015. Pihaknya mengharapkan kedaran umat dari seluruh Bali untuk ikut berpunia demi pembangunan pura kahyangan jagat tersebut. Untuk punia dengan pedaksinan (berhadiah) mobil dan sebagainya akan diundi pada tanggal 29 Desember 2014 di Pura Wantilan Pura Besakih.

Senin, 17 November 2014

Ribuan Krama Desa Adat Kesimpar Melasti Ke Segara Bebayu

AMLAPURA – Ribuan krama Desa Adat Kesimpar, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem melasti ke Segara Bebayu, Kamis (6/11) kemarin. Sudah menjadi kegiatan runtin setiap Penanggal 14 Sasih Kelima yang jatuh kemarin, Krama Desa Adat Kesimpar yang berada di wilayah 4 Desa Dinas, yaitu Desa Simpar, Desa Abang, Desa Pidpid, dan Desa Nawa Kerti tersebut melakukan upacara melasti ke Segara Bebayu, yang terletak di Dusun Bebayu, Desa Laba Sari, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. 
Tidak kurang dari 2 ribu warga mengikuti prosesi melasti yang memakan jarak tempuh sekitar 15 Km tersebut. Krama desa adat yang terdiri dari 20 banjar adat tersebut membentuk iring-iringan sepanjang 1 Km membawa 85 jempana yang dipikul beramai-ramai. Jempana tersebut dijadikan sebagai symbol Linggih Ida Betara di masing-masing kilitan baik paibon maupun pemaksan. Selain itu, warga juga membawa Kober, Tunggul, dan Tumbak yang ikut disucikan dalam prosesi melasti.
      Para pemedek yang kebanyakan kaum pria tersebut berjalan kaki sejauh 15 Km dari Desa Simpar, Desa Abang, Desa Pidpid, dan Desa Nawa Kerti menuju pantai Bebayu yang ada di sebelah barat dari objek pariwisata pantai Amed. Mereka sudah berangkat dari pukul 08:00 Wita secara bersamaan. Awalnya rombongan jempana dari Desa Abang dan dusun Kihkian, menunggu rombongan jempana dari desa Pidpid, Nawakerti, dan Simpar. Mereka menunggu di Dusun Mangsul, Desa Tista, Kecamatan Abang. 
Setelah itu baru kemudian bersama-sama melasti ke Segara Bebayu dengan melewati wilayah Berina, Kaang-kaang, Kebon, Culik, Seloni, dan menyisir pantai Amed. Perjalanan untuk sampai ke lokasi melasti kurang lebih selama dua jam. Sesampai di segara diisi acara persembahyangan dan penyucian pratima ida betara. Setelah ikut Krama kembali lagi ke pura pemaksan soang-soang juga dengan berjalan kaki. Kendati panas terik sekitar pukul 11:30 Wita  dari Pantai Bebabyu kembali ke Abang tidak menjadi halangan warga untuk ngayah melasti. Warga terlihat menerobos panas terik dengan suka cita.
      Bendesa Adat Kesimpar, I Gede Sujana menyampaikan bahwa memang setiap tahun ritual melasti dilakukan oleh krama desa adat Kesimpar. Dijelaskan bahwa rangkaian melasti dilakukan dalam rangka Ngusaba Kelima yang puncaknya jatuh pada Hari Purnama, Jumat (7/11) hari ini. “Upacara melasti dilakukan dalam rangakian uapacara ngusaba kelima yang dilaksanakan di Desa Adat Kesimpar” ujarnya. Sujana menyampaikan melasti dilakukan untuk menyucikan pratima ida betara sebelum nantinya diupacarai di Pura Puseh. “Setelah melasti, besok (hari ini red) Ida Betara mekabehan (dari 85 Jepmpana) akan berkumpul di Pura Puseh Kesimpar untuk digelar upacara ngusaba kelima” pungkasnya.


Puluhan Supir Truck Lapor Polisi Abikat Banyak Kena Pungutan Liar

AMLAPURA – Sekitar 50 orang supir truk yang biasa mengambil pasir dan batu di galian C di Desa Sebudi, Kecamatan Selat beramai-ramai mendatangi kantor Mapolsek Selat, Minggu (16/11) siang. Massa yang mengatasnamakan persatuan supir truk galian tersebut geram lantaran banyak muncul portal-portal yang melakukan pungli (pungutan liar) di wilayah kecamatan Selat, Rendang dan Sidemen.  Disampaikan portal-portal liar tersebut menjamur mulai sekitar 2 minggu lalu yaitu di wilayah Selat menuju Kecamatan Sidemen dan Rendang, dan dari Kecamatan Sidemen menuju Kabupaten Klungkung. “Kami kesini untuk melaporkan adanya portal-portal liar (pungutan liar) yang semakin marak di jalur yang kami lewati yaitu di wilayah Selat, Rendang, dan Sidemen” Ujar Gusti Agung yang merupakan koordinator para supir truk.
Menurut pria yang sudah puluhan tahun sebagai sopir truk itu menyampaikan dengan adanya portalatau pungutan liar tersebut maka sangat memberatkan para supir dimana penghasilan supir terus tersedot oleh pungutan liar yang mengatasnamakan desa, dadia, banjar, atau panitia pembangunan pura tersebut. Gusti Agung menyampaikan setidaknya ada puluhan portal liar (portal baru) yang melakukan pemungutan terhadap para sopir truk yang melintas di desanya. Agung menyampaikan bahwa para oknum di portal yang terbuat dari pos kamling tersebut sering memaksa para supir agar memeberikan uang mulai 3 ribu sampai 5 ribu rupiah. Jika tidak diberi mereka cenderung galak dan memasang muka masam sehingga membuat perasaan supir menjadi takut apalagi disinyalir ada portalyang dibeckingi oleh preman. Gusti Agung menyampikan sekitar 80-90 ribu rupiah uang harus disediakan untuk memberikan para penjaga di portalliar tersebut.
      Sementara itu supir truk yang lain yaitu Ketut Sudiarta menyampaikan uang pengeluaran untu tempat portal yang baru tersebut membuat pendapatannya menyusut tajam. Ketut Sudiarta yang berasal dari Dusun Lusuh, Desa Pering Sari, Kecamatan Selat tersebut menyampaikan bahwa dirinya selaku buruh yang dipekerjakan sebagai sopir hanya diberi uang bekal dan transport oleh bossnya senilai Rp.100.000 rupiah. Uang itu sudah termasuk uang yang harus diberikan kepada portalresmi yang dimiliki pihak desa adat. “Kalau dulu saya bayar di Desa Sebudi dan di portal Desa Adat Selat saja, sekarang banyak portal lain-lain muncul, saya makan apa, saya ini buruh, masak uang saya harus dikasi preman” ujarnya. Pihaknya berharap pihak kepolisian dan pihak terkait membantu mengatasi masalah yang mereka hadapai dengan menutup portal-portal liar. Jika tidak juga ditanggapi pihaknya mengaku akan mengumpulkan massa yang lebih besar menggunakan truk menutup jalan dan berdeontrasi di kantor camat Selat. “Jika satu minggu laporan kami tidak ada tindak lanjut maka kami akan berdemo ke kantor camat Selat” ujarnya.
       Begitu juga dengan supir yang lain yaitu Kadek Artanawa menyampaikan di dalam pungutan yang tidak resmi ada yang mengatasnamakan dadia atau pura tertentu menurutnya tidak dilaksanakan secara transparan. Artanawa menduga pungutan malah masuk ke kantong-kantong pribadi. “Ada ratusan truk lewat setiap hari namun mereka (Penjaga fortal) menyetor ke desa cuma seratus ribu per bulan” ungkapanya. Selain itu, Artanawa menyampaikan ada portal yang sengaja didirikan dan dibekingi preman tertentu yang jika tidak diberikan (uang setoran) maka marah-marah dan galak terhadap para sopir. Apalagi ketika di portaltersebut dijaga oleh 4 sampai 5 orang berbadan besar sehingga sang supir lebih cenderung meberikan uang agar tidak mencari masalah. “Kami ini tidak ingin ribut dan cari masalah dengan mereka (preman)” ungkapnya.
        Yang disesalkan oleh Gusti Agung, Sudiarta, dan Artanawa dan puluhan supir truk lainnya adalah munculnya portal-portal liar yang yang berkedok dana punia namun malah masuk kantong pribadi. Para supir menyampaikan setidaknya ada 23 pungli yang tidak jelas keberadaannya saat ini yaitu 11 ada di Kecamatan Selat dan 6 di wilayah Sidemen dan ada 6 di wilayah Rendang. Para supir berharap portal-portal liar yang melakukan pungli tersebut ditertibkan.
        Sementara itu, Kapolsek Selat, AKP I Nyoman Sudiarsa menyampaikan bahwa saat ini pihanya baru sebatas menerima laporan para supir. Pihaknya menerima tiga orang pewakilan yang melapor sementara sopir yang lainnya disertakan sebagai lampiran. Pihaknya mengaku akan segera melakukan koordinasi dengan pemerintah di tingkat desa, desa adat, pihak kecamatan, pemerintah kabupaten, dan melapor ke Polres untuk menindaklanjuti dari laporan para supir. “Kami akan tindaklanjuti laporan para supir dengan melakukan koordinasi lebih lanjut” ujarnya. 

PMI Butuh 2.500 Stok Darah Per Tahun

AMLAPURA – Kebutuhan akan suplay darah di Karangasem semakin tinggi. Menurut kasi Penanggulangan Bencana PMI Karangasem, I Wayan Suanda menyampaikan bahwa PMI (Palang Merah Indonesia) Cabang Karangasem membutuhkan lebih dari 2.500 stok darah per tahun. Jumlah tersebut terus menunjukkan kurpa meningkat seiring dengan pertambahan jumlah pasien yang sempat dirawat di RSUD Karangasem. Bahkan untuk bulan Oktober 2014 kemarin, pihak PMI Karangasem sempat meminta tambahan suplay darah dari PMI provinsi sekitar 50 kantong darah karena di Karangasem kehabisan stok. 
Oleh karena itu, PMI Karangasem gencar melakukan acara donor darah untuk mengejar jumlah suplay kebutuhan darah yang kurang tersebut. Seperti halnya menggelar acara donor darah serangkaian HUT korpri ke 43 yang dilaksanakan di Aula Diskominfo Karangasem, Jumat (14/11) kemarin. Acara donor darah tersebut dikuti sekitar 100 orang baik itu pimpinan dan staf jajaran SKPD Karangasem. Termasuk diantaranya adalah wakil Bupati Karangasem, I Made Sukerana beserta istri, Sekda Adnya Muliadi, Kepala Dinas Sosial, Made Sosiawan dan yang lainnya.
         Wakil Bupati Karangasem, I Made Sukerana menyampaikan bahwa dirinya rutin melakukan kegiatan donor darah setiap ada kesempatan. Selama ini, Sukerana mengaku sudah lebih dari 10 kali melakukan donor darah. “Saya sekitar 10 kali sudah pernah (donor darah), donor darah itu penting dilakukan untuk menganti sel-sel darah lama menjadi sel darah yang baru” ujarnya.  Ketika diperiksa oleh dokter dari PMI, Wabup Sukerana memiliki tekanan darah 130/80 dengan kualitas HB 14  sehingga cukup standar untuk melakukan kegiatan donor. Pria asal Desa Juntal, Kecamatan Kubu tersebut terlihat santai dan tenang ketika sebanyak 350 cc darah golongan O miliknya disedot ke dalam kantung penyimpanan darah.
       Sukerana mengharapkan kesadaran masyarakat ditingkatkan untuk ikut bersama-sama melakukan kegiatan dodor darah. Mantan ketua Koni Karangasem itu menyanyampaikan berdonor juga merupakan bentuk yadnya yang luhur karena secara tidak langsung menyelamatkan nyawa orang lain. “kegiatan donor ini kan termasuk yadnya, pahalanya besar karena bisa menolong nyawa orang” tuturnya. Dirinya mengaku memiliki pengalaman suram ketika membutuhkan lebih dari 20 kantong darah ketika mengalami kecelakaan di Singaraja beberapa tahun silam. “Dulu saya sudah banyak dibantu darah sekarang saatnya saya yang membantu” ujarnya berseloroh.
        Selain itu, istri Pak Wakil yaitu Nyonya Sumawati Sukerana juga ikut melakukan donor darah. Tekanan darah 130/90 dan HB darah 13,5 membuat Ibu wakil ketua PKK Karangasem tersebut memungkinkan untuk melakukan donor. “Saya juga sudah beberapa kali pernah donor darah” Ujar Sumawati tidak mau kalah dengan suaminya.
      Dalam kegiatan donor darah tersebut sebanyak 42 kantong darah diperoleh oleh PMI. Darah-darah yang diperoleh tersebut nantinya disimpan untuk diberikan kepada pasien di RSUD Karangasem yang membutuhkan. Selain itu, acara donor darah juga akan dilakukan oleh PMI di sekolah-sekolah, di hotel, di setiap kecamatan, di desa, dan di kelompok-kelompok karang taruna.