Laman

Laman

Tampilkan postingan dengan label RELEGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RELEGI. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Agustus 2017

Wujud Sradha Bhakti, Pemkab Karangasem Ngaturang Bakti Penganyar Penyineban di Pura Luhur Giri Selaka Alas Purwo


Foto: Sekda Karangasem Gede Adnya Mulyadi memimpin rombongan Pemkab Karangasem ngaturang Bakti Penganyar Penyineban di Pura Luhur Giri Selaka Alas Purwo

Teropong Amlapura - Pemerintah Kabupaten Karangasem Ngaturang Bhakti Penganyar Penyineban di Pura Luhur Giri Selaka Alas Purwo Banyuwangi Jawa Timur. Bakti Penganyar yang dipasilitasi Bagian Kesra Setda Karangasem itu dipimpin Sekda Gede Adnya Mulyadi yang didampingi Asisten dan Staf Ahli Bupati serta seluruh Kepala OPD beserta Staf di jajaran Pemkab Karangasem, Sabtu (26/8). Penganyar penyineban tersebut dilakukan serangkaian Karya Pujawali di Pura Luhur Giri Selaka Alas Purwo yang puncak karya telah dilakukan pada, Rabu (23/8) lalu bertepatan dengan Hari Raya Pagerwesi.
Kabag Kesra Setda Karangasem I Gede Basma, menyampaikan kegiatan ngaturang bhakti penganyar penyineban di Pura Luhur Giri Selaka Alas Purwo merupakan rangkaian dari kewajiban Pemerintah Kabupaten Karangasem dalam memperkokoh spiritual umat melalui pelaksanaan ritual keagamaan. Sementara itu, Sekretaris Daerah Gede Adnya Mulyadi mengatakan kegiatan Bhakti Penganyar Penyineban  di Pura Luhur Giri Selaka Alas Purwo sebagai bentuk wujud sradha bhakti sebagai umat hindu Karangasem untuk mengucapkan rasa syukur dan terimakasihnya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas karunia yang diberikan. Hal itu bertujuan mendoakan terciptanya kerahayuan jagat agar terhindar dari kali sengara lara roga seperti bencana alam serta berbagai bentuk penderitaan duniawi serta mensucikan bhuana agung dan bhuana alit. “Semoga semua diberikan anugrah keselamatan dan kesejahateraan oleh Ida Betara yang melinggih di Pura Luhur Giri Selaka Alas Purwo,” terangnya.
Bhakti Penganyar Penyineban sendiri diawali menghaturkan bebantenan kepada Ida Bhatara yang berstana di Pura Luhur Giri Selaka Alas Purwo. Seluruh pemedek memohon agar diberikan anugrah, kedamaian dan keselamatan. Di Pelataran Pura Luhur Giri Selaka pemedek dari kabupaten/kota dari Bali melaksanakan pemuspaan secara bertahap, dipimpin Jro Mangku setempat. Menjelang pukul 19.30 WIB, Sekda dan seluruh Kepala OPD dijajaran Pemkab Karangasem beserta staf berbaur dengan masyarakat melaksanakan pemuspaan Bhakti Penganyar Penyineban bersama yang diawali dengan Puja Tri Sandya. Setelah itu dilanjutkan Pemuspaan 3 kali yang berlangsung kusyuk dan hikmat yang dipuput Ida Pedanda Gede Pinatih Pasuruan dari Geriya Tengah Jungutan Karangasem. Prosesi ini juga diiringi berbagi tarian dari sejumlah para seniman serta ditutup dengan tari Topeng Sidakarya. Seusai Pemuspaan, Sekda Adnya Mulyadi menghaturkan sarin canang  yang diterima Bapak Suparno Pemangku Pura Luhur Giri Selaka Alas Purwo. adm

Rabu, 17 Mei 2017

Wabup Artha Dipa Pimpin Rombongan Pemkab Karangasem Ngaturang Bakti Penganyar di Pura Samuan Tiga


Foto: Wakil Bupati Karangasem Wayan Artha Dipa (kanan) memberikan punia saat ngaturang bakti Penganyar di Pura Samuan Tiga

KARANGASEM, Teropong Amlapura – Rombongan dari Pemkab Karangasem dipimpin oleh Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa didampingi sejumlah staf dari OPD di Lingkungan Pemkab Karangasem ngaturang bhakti penganyar di Pura Kahyangan Jagat Pura Samuan Tiga, Rabu (17/5) kemarin. Upacara penganyar tersebut dilaksanakan serangkaian dengan Karya Bhatara Turun Kabeh di Pura Samuan Tiga yang terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar tersebut.
Ketua Panitia Karya, I Wayan Patera menyampaikan rangkaian prosesi Karya Bhatara Turun Kabeh di Pura Samuan Tiga telah berlangsung sejak tanggal 25 April 2017 lalu. Disampaikan karya mulai dari prosesi Nyambut, Pengerauh, Madakeling, Negtegan, Nyangling, Mendak Pekuluh, dan Petabuhan sudah dilaksanakan. Bahkan untuk upacara puncak Karaya telah dilaksanakan pada Rabu, 10 Mei 2017 lalu. Pihaknya menyampaikaikan untuk upacara pesineban dilaksanakan pada 25 Mei 2017 mendatang. “Untuk umat yang ingin bersembahyang masih ada waktu sampai tanggal 25 Mei 2017 mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, Wabup Artha Dipa menyampaikan rombongan dari Pemkab Karangasem sengaja pedek ke Pura Samuan Tiga untuk memohon kerahayuan dan kesejahteraan bagi seluruh umat. Artha Dipa pun berharap bahwa rakyat Karangasem juga diberikan anugrah sehingga bisa hidup damai makmur dan sejahtera.

Setelah melaksanakan persembahyangan bersama, Wabup Artha Dipa secara langsung ngaturang punia. Punia tersebut diterima Manggala Karya I Wayan Patera dan disaksikan oleh para Pemangku, prajuru dan para pemedek yang mengikuti persembahyangan di Kahyangan Jagat Pura Samuan Tiga. adm/rls

Minggu, 09 April 2017

Ribuan Umat Ikuti Upacara Melasti di Besakih Serangkaian Karya Tawur Tabuh Gentuh lan Ida Bhatara Turun Kabeh


    Foto; upacara melasti di Pura Besakih

Teropong Amlapura - Menjelang Tawur Tabuh Gentuh lan Karya Ida Betare Turun Kabeh di Pura Besakih yang puncaknya jatuh pada 11 April 2017 mendatang, Krama Hindu di Bali melakukan prosesi melasti ke Toya Sah, Minggu kemarin (9/4) kemarin. Upacara melasti itu dilakukan untuk menyucikan seluruh pelingga dan uparangga yang akan diupacarai di Pura Penataran Agung Besakih.

Upacara melasti sendiri diikuti ribuan umat yang berasal dari seluruh penjuru Bali. Umat yang telah memadati areal Pura Besakih sejak pukul 08:00 Wita tersebut melakukan upacara melasti ke Toya Sah yang terletak di Banjar Susut, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem.

Jarak dari Pura Besakih ke Toya Sah kurang lebih 3 Km yang ditempuh para pemedek dengan berjalan kaki. Ribuan Iring-iringan pemedek laki perempuan memberntuk barisan pemundut uparenga seperti pembawa tambur, umbul-umbul, piasan, kober, pajeng, tumbak, dan beragam pratima Ida Betara. Disusul kemudian iringan Jempana pengabih Pura Besakih yang jumlahnya 21 jempana. Baru kemudian disusul jempana dari masing-masing pedarman yang jumlahnya 12.

Iring-iringan melasti diikuti tidak kurang dari 1.000 orang. Banyaknya pemedek yang berasal dari seluruh Bali membuat barisan melasti mencapai sepanjang 1 Km. Kendati demikian demikian arus kendaraan dapat dikendalikan karena diatur oleh pecalang dan pihak kepolisian. adm

Kamis, 06 April 2017

Umanis Galungan, Pemedek ke Pura Lempuyang Membludak

foto: Pemdek bersembahyang di Pura Lempuyang Luhur

Teropong Amlapura - Hari Raya Manis Galungan merupakan hari piodalan di Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur. Ribuan umat hindu seluruh Bali biasanya akan menyempatkan diri untuk pedek sembahyang ke pura yang terletak di puncak bukit Bisbis di Desa Tribuana, Kecamatan Abang, Karangasem tersebut. Seperti halnya pada Manis Galungan, Kamis (6/4/) kemarin, ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Bali sembahyang ke Lempuyang.
    Pura Lempuyang merupakan Pura Sad Kahyangan tempat berstananya Hyng Geni Jaya atau Dewa Iswara. Pura ini terkenal dengan tirta pingit yang keluar dari dalam bambu yang hidup di tengah areal pura. Selain itu, para pemedek yang akan sembahyang ke Pura tersebut mendapat pantangan berkata kasar (mengumpat) agar tidak terkena bahaya seperti digigit monyet atau jatuh ke jurang.
   Untuk sampai di Pura Lempuyang Luhur, para pemedek akan melewati berbagai pura di sepanjang perjalanan. Pertama Para Pemedek akan sembahyang di Pura Ayu Lempuyang. Kemudian dari Pura Ayu pemendek akan naik sekitar 1 kilo meter menuju Pura Telaga Mas. 
    Dari Pura Ayu ke Telaga Mas bisa dilalui dengan kendaraan ojek yang dikelola oleh warga desa Adat setempat atau memilih berjalan kaki. Selanjutnya pemedek naik melalui anak tangga untuk sembahyang di Pura Lempuyang Madya. Dari Lempuyang Madya, pemedek kemudian kembali menaiki anak tangga sekitar 800 meter menjumpai Pura Pasar Agung. Nah dari Pura Pasar Agung naik lagi sekitar 500 meter ke puncak bukit untuk sampai di Pura Lempuyang Luhur. adm

Selasa, 04 April 2017

Refleksi Galungan


Mari jadikan Galungan benar-benar sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Buda (Rabu) Kliwon Wuku Dungulan dimana kebaikan mengalahkan kejahatan. Bukan sebaliknya. Justru di Hari Galungan malah perbuatan-perbuatan Adharma semakin marak.

Jangan sampai muda-mudi dengan alasan sembahyang keluar kelayapan bersama pasangan ujung-ujungnya mesum. Atau turun ke jalan menggelar aksi trek-trekan. Begitu juga orang tua, jangan ke tetangga ngumpul untuk main kartu ceki. Atau malah pergi ke arena tajen (sabung ayam). Yang konon digelar undang-undangan khusus di Hari Galungan.  Lebih ramai, lebih besar taruhannya.

Jangan jadikan Galungan sebagai rutinitas enam bulanan tanpa esensi. Merayakan Galungan seharusnya menjadi momentum meningkatkan Sradha Bakti (iman dan taqwa) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. “Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan, Semoga kemenangan Dharma membawa kedamaian dan sejahteraan untuk kita semua”. Adm

Kamis, 21 Juli 2016

Setelah Usaba, Desa Adat Kesimpar Gelar Nyepi Adat

KARANGASEM, Teropong Amlapura – Hari raya nyepi di beberapa desa di Bali dilaksanakan dua kali. Pertama hari raya nyepi diperingati secara nasional setelah pergantian tahun baru caka. Kedua nyepi secara adat dilaksanakan setelah upacara usaba di Pura Puseh.
Khusus untuk nyepi adat setelah usaba di pura puseh contohnya dilaksanakan oleh Desa Adat Kesimpar, Kecamatan Abang, Karangasem. Desa adat yang berasal dari 4 desa dinas di Kecamatan Abang tersebut menggelar upacara nyepi adat Kamis, (21/7/2016). Layaknya nyepi pada umumnya, seluruh krama desa adat Kesimpar dilarang melakukan aktifitas sesuai catur barata penyepian, yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak berkerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Hanya saja penyepian dilakukan selama 12 jam mulai jam 6 pagi sampai pukul 18:00 Wita.
Bendesa Adat Kesimpar, I Gede Sujana menyampaikan bahwa nyepi adat di Desa Adat Kesimpar sudah dilakukan secara turun temurun. Nyepi dilakukan setelah melaksanakan usaba di Pura Puseh Kesimpar yang disebut upacara Ngusaba Wai yang jatuh tiap rahina Purnama Sasih Kasa. Usaba Wai sendiri diambil dari istilah usaba yang dilakukan dalam waktu hanya sehari. “Dalam usaba seluruh sesuunan Ida Betara dari masing-masing banjar  tedun kabeh di Pura Puseh Kesimpar nyejer selama sehari, baru kemudian kesokannya melaksanakan Nyepi Adat” ujarnya. Sama seperti nyepi pada umumnya, nyepi di Kesimpar dilakukan untuk memohon keselamatan seluruh umat serta sebagai kesempatan untuk intropeksi diri seraya mendekatkan diri dengan sang pencipta.

Sujana yang sudah dua periode sebagai bendesa itu menyampaikan bahwa desa adat kesimpar adalah desa adat terbesar di Karangasem karena terdiri dari 4 desa dinas yaitu Desa Abang, Desa Pidpid, Desa Purwakerti dan Desa Simpar. Pengemponnya pun sekitar 4.500 KK tersebar di 20 Banjar Adat. “Nyepi ini hanya berlaku bagi warga desa adat kesimpar, kalau warga desa lain tetap boleh melintasi jalan seperti biasa,” jelasnya. Pihaknya menyampaikan bahwa selama nyepi akan menurunkan pecalang untuk mengamankan desa dan sekaligus untuk mencatat warga yang melanggar. “Kalau ada yang melanggar nanti dikenakan sanksi adat,” tutupnya. ***