Laman

Laman

Minggu, 25 Oktober 2015

Ribuan Krama Desa Adat Kesimpar Melasti Ke Pantai Bebayu











foto: ribuan krama Desa Adat Kesimpar, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem melakukan upacara melasti ke Segara (pantai) Bebayu

KARANGASEM, Teropong Amlapura – Ribuan krama Desa Adat Kesimpar, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem melakukan upacara melasti ke Segara (pantai) Bebayu yang terletak di Desa Laba Sari, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Minggu (25/10) kemarin. Tidak kurang dari 2 ribu warga mengikuti prosesi melasti yang memakan jarak tempuh sekitar 15 Km tersebut. 
   Krama desa yang terdiri dari 20 banjar adat tersebut membentuk iring-iringan sepanjang 1 Km membawa 85 jempana (joli) yang dipikul beramai-ramai ke pantai dengan berjalan kaki. Krama juga membawa Kober, Tunggul, dan Tumbak yang ikut disucikan dalam prosesi melasti tersebut. Uniknya yang mengikuti melasti ini hanyalah kaum pria. Sementara kaum perempuan telah menunggu di pinggir pantai sehingga Segara Bebayu menjadi lautan manusia.
  Sesampainya di Segara Bebayu dilakukan persembahyangan bersama. Persembahyangan diikuti sekitar 4 ribu orang sebab hampir seluruh krama desa Adat Kesimpar yang berasal dari wilayah 4 Desa Dinas, yaitu Desa Simpar, Desa Abang, Desa Pidpid, dan Desa Nawa Kerti mengikuti prosesi melasti yang dilaksanakan setahun sekali tersebut. Kendati panas terik matahari sekitar pukul 11:00 Wita tidak menjadi halangan warga untuk melakukan persembahyangan di pinggir pantai Bebayu tersebut.
    Bendesa Adat Kesimpar, I Mede Sujana saat ditemui di pantai Bebayu menyampaikan melasti dilakukan dalam rangka Ngusaba Kelima yang puncaknya jatuh pada Hari Purnama, Selasa (27/10). Sujana menyampaikan melasti dilakukan untuk menyucikan pratima Ida Betara sebelum nantinya diupacarai di Pura Puseh. “Setelah melasti, Ida Betara mekabehan (dari 85 Jempana) akan nyejer di Pura Puseh Kesimpar untuk digelar upacara ngusaba kelima” Ungkapnya. (jurnalis-TA)

Rumah Mantan Bendesa Terbakar, Pakai Tarian Gambuh Kuno Ikut Jadi Abu

KARANGASEM, Teropong Amlapura - Kebakaran kembali terjadi di wilayah Karangasem. Kali ini kebakaran menimpa rumah mantan Bendesa Adat Subagan, I Nengah Nirta (75) di Lingkungan Desa, Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem, Sabtu (24/10) kemarin. Kebakaran yang terjadi siang bolong tersebut menghanguskan satu bangunan 6x6 meter yang berisi satu kamar tidur, satu dapur, dan satu rung penyimpanan barang-barang kuno termasuk pakaian pentas tarian gambuh. Kerugian materiil berupa bagunan dari kebakaran itu ditaksir sekitar Rp.80 juta, sementara barang-barang kuno juga ikut jadi abu tidak ternilai harganya.
Nyoman Suandi (45) yang merupakan anak dari I Nengah Nirta menuturkan bahwa kebakaran yang menimpa rumah bapaknya terjadi sekitar pukul 13:30 Wita. Saat itu rumah dalam keadaan sepi karena semua sedang tidur. Barulah Suandi yang rumahnya hanya 3 meter dari bangunan yang terbakar terkejut ketika tetanggnya membangunkannya seraya menyampaikan bahwa ada kebakraan. “Saya melihat api sudah membesar di atas dapur, saya bersama warga berusaha memadamkan api dengan air PDAM sebelum pemadam kebakaran datang,” Ujar Suandi menuturkan awal kebakran. Dirinya menyampaikan bahwa saat kebakaran terjadi tidak ada di dalam bangunan tersebut karena bapaknya sedang pergi ke rumah menantunya.
     Warga yang memadamkan api secara manual pun tidak maksimal memadamkan api. Api yang dengan cepat menjalar membuat warga tidak bisa menyelamatkan barang-barang yang ada di bangunan yang terbakar. Kebakaran dapat diatasi setelah pemadam Kebakaran Kabupaten Karangasem datang mengerahkan 3 mobil pemadam. Petugas menyenprot 6 bagunan penyanding dengan cepat sehingga kebakaran tidak dampai melebar. Api pun dapat dipadamkan secara totol sekitar pukul 15:00 Wita.
     Nyoman Suandi menuturkan penyebab kebakaran diduga dari dapur dimana saat itu keluarganya memasak memakai tungku api dengan kayu bakar. “Mungkin sisa pembakaran dari tungku yang naik lalu menimbulkan kebakaran,” tuturnya. (jurnalis-TA)

Jumat, 23 Oktober 2015

Satu Hektar Lahan Kering Terbakar di Bhuana Giri

KARANGASEM, Teropong Amlapura – Lahan kering seluas 1 hektar terbakar. Peristiwa itu terjadi di Banjar Bhuana Kerta, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Jumat (23/10) kemarin. Kebakaran itu berada di lokasi perbukitan yang jauh dari rumah penduduk. Kendati demikian, kebakaran tersebut mengancam areal hutan yang dekat dengan lereng Gunung Agung. Jika tidak diantisifasi, ditakutkan kebakaran akan meluas sehingga mengakibatkan kebakaran yang lebih besar.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem Ida Ketut Arimbawa menyampaikan bahwa pihaknya mendapatkan laporan bahwa ada kebakaran lahan yang terjadi di Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem sekitar pukul 11:50 Wita. 
    Kebakaran lahan itu milik I Wayan Pasek (35) yang merupakan warga setempat. Setelah menerima laporan itu, tim gabungan BPBD Karangasem bersama Pemadam Kebakaran, KRPH, Jajaran Polsek Bebandem terjun ke lokasi untuk memadamkan api secara manual. Pihaknya menerjunkan sekitar 20 orang petugas yang dibantu sekitar 30 orang warga sekitar sehingga api pun dapat diatasi sekitar pukul 13:00 Wita. Pihaknya mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab kebakaran tersebut. Namun diduga akibat kelalain manusia seperti membuang puntung rokok atau membakar sampah. (jurnalis-TP)

Kamis, 22 Oktober 2015

Operasi Zebra Agung 2015, Polres Karangasem Akan Razia Pelajar dan Genk Motor

KARANGASEM, Teropong Amlapura – Guna menciptakan keamanan di lingkungan masyarakat, khususnya dalam hal tertib transportasi di jalan raya, Polres Karangasem mengadakan Operasi Zebra Agung mulai 22 Oktober hingga 22 November 2015 mendatang. Operasi yang akan digelar selama satu bulan penuh tersebut akan difokuskan untuk melakukan razia terhadap kendaraan bermotor yang dipakai oleh masyarakat. Secara spesifik, Operasi Zebra Agung 2015 akan dijadikan momentup untuk merazia para pelajar dan genk motor yang sering melakukan kegiatan ugal-ugalan di jalan yang meresakan masyarakat. Hal itu disampaikan oleh Kapolres Karangasem AKBP Gede Adhi Mulyawarman seusai apel pembukaan Operasi Zebra Agung 2015, di Halaman Mapolres Karanagsem, Kamis (22/10) kemarin.

Kapolres menyampaikan bahwa para pelajar dalam berkendara sering tidak mengindahkan aturan. Kadang para pelajar suka mengebut dalam berkendara sehingga membahayakan bagi pengendara lain. Akibatnya angka kecelakaan yang melibatkan pelajar di Karangasem cukup tinggi. Apalagi pelajar terlibat dalam genk motor yang aksinya sering meresahkan masyarakat karena nongkrong pada malam hari di pinggir jalan bergerombol lalu melakukan terek-trekan liar. 
Oleh karena itu, Kapolres mengaku akan menerjunkan ratusan personil untuk melakukan razia pagi dan malam hari di sejumlah titik rawan yang sering terjadi kecelakaan dan tempat mangkal para genk motor. “Nanti kalau kena razia (pelajar dan genk motor) dan tidak lengkap surat-suratnya ya ditilang,” ujar kapolres menyampiakan bahwa tilang itu agar memberikan efek jera bagi para pelanggar. Pihaknya mengharapkan agar surat-surat ijin mengemudi dan kendaraan serta kelengkapan asesori motor harus lengkap sehingga tidak terkena razia. 
Selain itu, menurutnya yang terpenting adalah kesadaran menaati peraturan dalam berkendara sehingga selamat sampai tujuan. Oleh karena itu, dalam operasi zebra agung 2015 juga akan dilakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang  tata cara berkendara dengan baik. (jurnalis-TA)

Korsleting Listrik, Dapur dan Pelinggih Pegawai PDAM Terbakar

KARANGASEM, Teropong Amlapura – Diduga karena korsleting listrik, sebuah dapur dan 3 pelinggih terbakar. Kebakaran itu menimpa dapur dan pelingih milik I Made Ribek (45) di Dusun Tegenan, Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Karangasem, Kamis (22/10). Kebakaran diduga dipicu oleh power bank dan alat barcode pengecekan kilometer air PDAM yang ditinggalkan oleh Ribek dalam keadaan dicas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kebakaran terjadi sekitar pukul 11:00 Wita. Saat itu rumah korban dalam keadaan kosong karena korban sedang bekerja di PDAM Rendang. Sementara mertuanya yang biasanya berjaga di rumah sedang berada di ladang. Kebakaran baru diketahui warga setelah ada bunyi ledakan yang berasal dari salah satu tabung di rumah korban. Warga sekitar pun mencoba memadamkan api dengan cara manual namun tidak maksimal. Api cepat membesar sebab berada di salah satu kamar yang menempel dengan dapur.
        Api pun dengan segera menghanguskan sebuah bangunan 6x5 Meter yang berupa dapur dan sebuah kamar tidur tersebut. Api yang membesar juga melahap 3 atap Pelinggih Sanggah Kemulan yang terbuat dari duk (ijuk). Api baru bisa dipadamkan setelah hampir seluruh bangunan dan atap sanggah ludes terbakar. Akibat kejadian itu, korban ditaksir menderita kerugian sekitar Rp. 200 juta rupiah. (jurnalis-TA)

Rabu, 21 Oktober 2015

Tradisi Terteran dan Usaba Guling Didaftarkan Hak Paten

KARANGASEM, Teropong Amlapura – Kesenian asli Kabupaten Karangasem yaitu Terteran (Perang Api) dan Usaba Guling didaftarkan di Kementrian Kebudayaan untuk mendapatkan hak paten. Hak paten itu dimaksudkan bahwa nanti kesenian asli Karangasem itu tidak diklaim oleh Kabupaten atau daerah lain.
Adanya pendaftaran kesenian asli Kabupaten Karangasem tersebut ke kementrian Kebudayaan disampaikan oleh Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Karangasem Ni Made Suradnyani. Pihaknya menyampaikan bahwa tahun 2015 ini ada dua tradisi kesenian asli Karangasem yang akan didaftarkan yaitu Kesenian Terteran (perang api) dan Ngusaba Guling. Terteran merupakan tradisi perang api yang dilakukan oleh warga di Desa Adat Jasri, Karangasem sedangkan Ngusaba Guling adalah ritual persembahan ribuan babi guling yang dilakukan di Pura Puseh Desa Adat Timrah, Karangasem.
Pihaknya menyampaikan baru dua tradisi itu didaftarakan karena pemkab memiliki kendala dalam pendanaan dan keterbatasan SDM dalam melakukan dokumentasi. “Karena dana terbatas dan personil yang kurang dalam melakukan dokumentasi maka tahun ini baru Terteran dan Ngusaba Guling saja yang didaftarkan,” ujar Suradnyani seusai acara sosialisasi pendafataran Tradisi Terteran dan Ngusaba Guling di aula Pemkab Karangasem, Rabu (21/10) kemarin.

        Lebih lanjut Suradnyani menjelaskan bahwa jika mendaftarkan hak paten ke Kementrian Kebudayaan perlu persiapan dukumen dan video kegiatan tradisi secara lengkap dari awal sampai akhir dan perlu juga pernyataan bahwa tradisi itu tidak dilakukan di daerah lain agar nanti tidak ada protes dan masalah yang bisa jadi sengketa. “Untuk siapkan dokumen dan video tidak gampang, butuh dana, waktu, dan persiapan yang matang,” tuturnya. Pihaknya menyampaikan masih ada belasan tradisi dan kesenian asli Karangasem yang masih antri untuk didaftarkan yaitu Geret-Geretan Pandan asli Tenganan, Gebug Ende Seraya, Genjek, Gamelan Selonding, lontar, usaba mumu, usaba bantal, dan lain sebagainya. (jurnalis-TA)

TEROPONG AMLAPURA: Headline

TEROPONG AMLAPURA: Headline: KARANGASEM, Teropong Amlapura -  Pemerintah Kabupaten Karangasem melepas 20 orang calon kader bela Negara. Mereka yang dilepas itu adalah 2...