KARANGASEM, Teropong Amlapura – Kematian dua orang
korban bencana tanah longsor di Sanghyang Ambu yaitu Ni Nyoman Klemun (60) dan
Ni Kadek Dwi Ulandari (8) mengundang keprihatinanan banyak orang termasuk
Bupati Karangasem I Wayan Geredeg dan Wabup I Made Sukerana. Bupati dan Wabup
bahkan menyempatkan waktu untuk mengujungi keluarga korban di rumah duka di
Banjar Tanah Barak, Desa Seraya Timur, Kecamatan Karangasem untuk menyerakan
bantuan, Senin (2/2) kemarin. Didampingi oleh Kadis Sosial, I Made Sosiawan dan
kepala BPBD Ida Ketut Arimbawa, Bupati dan Wabup memberikan bantuan berupa uang
tunai 5 juta rupiah dan 4 paket sembako untuk 2 orang keluarga korban.
Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg
mengucapkan turut berdukacita dan belasungkawa kepada keluarga korban Ni Nyoman
Klemun dan Ni Kadek Dwi Ulandari yang meninggal akibat bencana tanah longsor di
Bukit Sanghyang Ambu di Banjar Belong, Desa Bugbug, Kecamatan Karangsem, Sabtu
(31/1) lalu. Bupati dua periode tersebut menyampaikan bahwa kejadian tersebut
adalah sebuah musibah alam yang memang tidak dapat diprediksikan kedatangannya.
“Saya turut berduka cita atas mengingaalnya 2 orang korban akibat longsor, saya
berdoa agar roh korban bisa diterima di SisiNya, dan saya berharap keluarga yang
ditinggalkan bisa tabah” ujar Geredeg saat diterima oleh sejumlah anggota keluarga
korban. Geredeg menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan pemerintah tidaklah
banyak namun diharapkan mampu meringankan penderitaan bagi kelaurga yang
ditinggalkan. “Ini pak mudah-mudahan bisa dimafaatkan dengan baik, bapak harus
tabah, mari sama-sama berdoa agar keluarga bapak yang sudah tiada bisa diterima
di Sisinya” Ujar Geredeg sambil menyerahkan bantuan kepada perwakilan keluarga
Korban, I Wayan Salin yang merupakan anak tertua dari Korban Ni Nyoman Klemun.
Bupati
Geredeg menyampaikan bahwa agar kejadian di Sanghyang Ambu tidak terulang lagi,
pihaknya telah mempersiapkan pembangunan sistem terasering dengan trap-trap
bronjong untuk menahan tekanan laju air hujan dari atas bukit. “Kami berencanan untuk mebangun terasiring trap-trap bronjong yang berfungsi
menahan tekanan laju air hujan dari atas bukit, dibuatkan cekungan dibawahnya,
kalau penuh cekunganya diloding atau diambil
tanahnya dengan alat berat”
ungkapnya. Selain itu, Bupati juga merencanankan untuk melakukan penghijauan
dengan melaukan penanaman pohon bambu yang bisa lebih kuat menahan tanah pada
lapisan atas. “Kita akan tanam pohon bambu itu lebih kuat daripada tanam pohon
gamal, sebab akar gamal ternyata membuat tanah menjadi gembur sehingga mudah
longsor” tuturnya.
Sementara itu, Wayan Salin mewakili
keluarga korban menyampaikan terimakasih kepada pemerintah yang sudah memeperhatikan
keluarganya. Pihaknya menyampaikan bahwa kedua keluarganya yang menjadi korban longsor
itu sudah diabenkan. “Ibu dan ponakan saya sudah diabenkan kemarin (Minggu 1/2
red)” ujarnya. Langkah ngaben itu dilakukan mengingat desa Adat Seraya Timur
menerapkan awig-awig kalau sampai tiga hari korban meninggal tidak diabenkan
maka harus menyiapkan banten penyapuh di pura-pura yang ada di Seraya Timur.
Pihaknya pun minta maaf karena banyak anggota keluarganya yang tidak ada di
rumah termasuk I Wayan Poleng (sang penyewa tempat usaha yang akan diplaspas)
karena sedang melakukan persembahyangan di pura kawitannya serangkaian upacara
ngaben kedua korban. *







0 komentar:
Posting Komentar