Laman

Laman

Selasa, 03 Februari 2015

Bupati dan Wakil Bupati Karangasem Serahkan Bantuan Pada Korban Bencana Longsor Sanghyng Ambu

KARANGASEM, Teropong Amlapura – Kematian dua orang korban bencana tanah longsor di Sanghyang Ambu yaitu Ni Nyoman Klemun (60) dan Ni Kadek Dwi Ulandari (8) mengundang keprihatinanan banyak orang termasuk Bupati Karangasem I Wayan Geredeg dan Wabup I Made Sukerana. Bupati dan Wabup bahkan menyempatkan waktu untuk mengujungi keluarga korban di rumah duka di Banjar Tanah Barak, Desa Seraya Timur, Kecamatan Karangasem untuk menyerakan bantuan, Senin (2/2) kemarin. Didampingi oleh Kadis Sosial, I Made Sosiawan dan kepala BPBD Ida Ketut Arimbawa, Bupati dan Wabup memberikan bantuan berupa uang tunai 5 juta rupiah dan 4 paket sembako untuk 2 orang keluarga korban.
Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg mengucapkan turut berdukacita dan belasungkawa kepada keluarga korban Ni Nyoman Klemun dan Ni Kadek Dwi Ulandari yang meninggal akibat bencana tanah longsor di Bukit Sanghyang Ambu di Banjar Belong, Desa Bugbug, Kecamatan Karangsem, Sabtu (31/1) lalu. Bupati dua periode tersebut menyampaikan bahwa kejadian tersebut adalah sebuah musibah alam yang memang tidak dapat diprediksikan kedatangannya. “Saya turut berduka cita atas mengingaalnya 2 orang korban akibat longsor, saya berdoa agar roh korban bisa diterima di SisiNya, dan saya berharap keluarga yang ditinggalkan bisa tabah” ujar Geredeg saat diterima oleh sejumlah anggota keluarga korban. Geredeg menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan pemerintah tidaklah banyak namun diharapkan mampu meringankan penderitaan bagi kelaurga yang ditinggalkan. “Ini pak mudah-mudahan bisa dimafaatkan dengan baik, bapak harus tabah, mari sama-sama berdoa agar keluarga bapak yang sudah tiada bisa diterima di Sisinya” Ujar Geredeg sambil menyerahkan bantuan kepada perwakilan keluarga Korban, I Wayan Salin yang merupakan anak tertua dari Korban Ni Nyoman Klemun.
            Bupati Geredeg menyampaikan bahwa agar kejadian di Sanghyang Ambu tidak terulang lagi, pihaknya telah mempersiapkan pembangunan sistem terasering dengan trap-trap bronjong untuk menahan tekanan laju air hujan dari atas bukit. “Kami berencanan untuk mebangun terasiring trap-trap bronjong yang berfungsi menahan tekanan laju air hujan dari atas bukit, dibuatkan cekungan dibawahnya, kalau penuh cekunganya diloding atau diambil  tanahnya  dengan alat berat” ungkapnya. Selain itu, Bupati juga merencanankan untuk melakukan penghijauan dengan melaukan penanaman pohon bambu yang bisa lebih kuat menahan tanah pada lapisan atas. “Kita akan tanam pohon bambu itu lebih kuat daripada tanam pohon gamal, sebab akar gamal ternyata membuat tanah menjadi gembur sehingga mudah longsor” tuturnya.
            Sementara itu, Wayan Salin mewakili keluarga korban menyampaikan terimakasih kepada pemerintah yang sudah memeperhatikan keluarganya. Pihaknya menyampaikan bahwa kedua keluarganya yang menjadi korban longsor itu sudah diabenkan. “Ibu dan ponakan saya sudah diabenkan kemarin (Minggu 1/2 red)” ujarnya. Langkah ngaben itu dilakukan mengingat desa Adat Seraya Timur menerapkan awig-awig kalau sampai tiga hari korban meninggal tidak diabenkan maka harus menyiapkan banten penyapuh di pura-pura yang ada di Seraya Timur. Pihaknya pun minta maaf karena banyak anggota keluarganya yang tidak ada di rumah termasuk I Wayan Poleng (sang penyewa tempat usaha yang akan diplaspas) karena sedang melakukan persembahyangan di pura kawitannya serangkaian upacara ngaben kedua korban. *


0 komentar:

Posting Komentar