Laman

Laman

Minggu, 28 Desember 2014

Melukat Saat Kuningan Di Pantai Jasri, Putu Nik Sumarjana Tewas Terseret Arus

AMLAPURA – Hari raya Kuningan yang jatuh pada Saniscara Kliwon biasanya diisi oleh sebagian orang untuk melukat ke pantai atau ke tempat pelukatan. Lazimnya setelah selesai melakukan persembahyangan di pura-pura pemaksan di masing-masing desa, warga kemudian menuju pantai menyucikan diri dari mala atau kekotoran yang menghinggapi tubuh agar dilarung ke dalam laut. Hal itu juga dilakukan oleh I Putu Nik Sumarjana (16) warga asal Dusun Abian Soan, Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Karangasem yang melukat di Pantai Jasri, Desa Jasri, Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem, Sabtu (27/12) kemarin. Namun sayang pelukatan yaang bertujuan menghilangankan “kekotoran” itu malah berujung pada mala petaka. Sebab ketika sedang berengang di Pantai Jasri, siswa kelas 10 di SMKN 1 Amlapura tersebut meninggal dunia karena tenggelam dan terseret arus laut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, awalnya korban bersama dua orang temannya yaitu I Kadek Wilas Tantra (16) dan I Ketut Abiantara (14) berencana untuk pergi melukat setelah melakukan persembahyangan di rumah masing-masing. Sekitar pukul 11:00 mereka bertiga berangkat dengan dua sepeda motor ke Pantai Jasri. Awalnya sebenarnya mereka berencana untuk pergi ke pantai pasir putih yang ada di desa Bugbug Karangasem, namun atas permintaan korban mereka bertiga pun lalu ke pantai Jasri. “Awalnya kami berencana ke pantai pasir putih, namun Nik (korban) memutuskan agar melukat di pantai jasri” Ujar Kadek Wilas Tantra saat ditemui di RSUD Karangasem.
             Bedasarkan penuturan Wilas, sesampainya di lokasi mereka awalnya jalan-jalan sebentar lalu memutuskan untuk mandi. Sebenarnya Wilas dan Abiantara enggan untuk mandi di laut karena saat itu ombaknya cukup besar. Namun karena ajakan dari korban yang bergitu tinggi maka, mereka berdua ikut melepas pakaian adat dan mandi di tengah laut. Disampaikan oleh Wilas korban mengajaknya untuk mandi ke tengah laut.  Namun karena tidak terlalu bisa berenang , ia menolak tawaran korban. “Saya diajak berenang ke tengah tapi saya tidak mau karena saya tidak begitu bisa berenang” ujarnya mengingat-ingat awal kejadian maut tersebut. Kendati demikian, korban terus saja berenang ke tengah laut, sementara Wilas dan Abiantara hanya berenang di pingir-pinggir. Naas pun menimpa korban karena arus gelombang terlalu besar sehingga menghempaskan tubuh korban. Korban diduga mengalami benturan dengan batu karang sehingga kehilangan tenanga untuk kembali ke daratan. Terbukti wajah korban mengalami memar dan dari hidung serta mulut korban mengeluarkan darah. Selanjutnya tubuh korban tenggelam dan terus tergerus ke tengah laut akibat arus gelombang yang cukup besar.  
Mendapati temannya sudah menghilang digulung gelombang, Wilas Tantra dan Abiantara panik. Mereka berdua cepat-cepat menyampaikan kejadian tersebut kepada warga sekitar yang juga sedang mandi di pantai tersebut. Namun warga yang melakukan pencarian tidak menemukan tubuh korban samapai akhirnya memanggil bantuan tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem.
    Kepala BPBD Karangasem, Ida Ketut Arimbawa menyampaikan bahwa pihaknya mendapatkan laporan warga sekitar pukul 13:00 Wita bahwa ada korban terseret arus laut di pantai Jasri. Mendapati laporan tersebut pihaknya mengaku langsung menerjunkan 15 orang personil dari ESR maupun unit Balawista BPBD. “Setelah kami lakukan pencarian sekitar 45 menit bersama warga dan tim dari kepolisian kemudian kami temukan ada sososok mayat yang mengapung di tengah laut” ujarnya. Setelah dicek ternyata mayat yang ditemukan adalah korban kemudian pihaknya membawa mayat korban ke RSUD Karangsem untuk mendaptkan pemeriksaan. “Setelah kita evakuasi korban dari tengah laut lalu kami bawa ke RSUD Karangasem untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut” ujarnya.
             Tim dokter RSUD Karangasem yang memeriksa korban, yaitu dr. Ari Sujati menyampaikan bahwa ketika sampai di UGD korban sudah dalam keadaan meninggal.  Korban banyak kemasukan air pada bagian saluran pernapasan. Selain itu disampaikan pada hidung dan mulut korban terus mengeluarkan darah diduga akibat benturan sebelum korban meninggal.
         Sementara keluarga korban merapati sedih keluarganya telah meninggal. Ayah korban yaitu I Wayan Sujana tidak bisa menutupi kesedihannya lantaran anak pertamanya itu berpulang lebih awal. Kesedihan yang mendalam juga terpancar pada wajah Ibu korban yaitu Ni Wayan Mariani. Mariani terus saja menagis sedih seakan tidak percaya kalau satu-satunya putra dari 4 anaknya itu telah tiada untuk selama-lamanya. Pihak keluarga mengaku masih berunding untuk mencari hari pemakaman korban karena saat ini masih dalam rangkaian hari raya Kuningan. *


0 komentar:

Posting Komentar