AMLAPURA –
Hari raya Kuningan yang jatuh pada Saniscara Kliwon biasanya diisi oleh
sebagian orang untuk melukat ke pantai atau ke tempat pelukatan. Lazimnya setelah
selesai melakukan persembahyangan di pura-pura pemaksan di masing-masing desa,
warga kemudian menuju pantai menyucikan diri dari mala atau kekotoran yang
menghinggapi tubuh agar dilarung ke dalam laut. Hal itu juga dilakukan oleh I
Putu Nik Sumarjana (16) warga asal Dusun Abian Soan, Desa Bungaya Kangin,
Kecamatan Bebandem, Karangasem yang melukat di Pantai Jasri, Desa Jasri,
Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem, Sabtu (27/12) kemarin. Namun sayang
pelukatan yaang bertujuan menghilangankan “kekotoran” itu malah berujung pada
mala petaka. Sebab ketika sedang berengang di Pantai Jasri, siswa kelas 10 di SMKN
1 Amlapura tersebut meninggal dunia karena tenggelam dan terseret arus laut.
Berdasarkan informasi yang
dihimpun, awalnya korban bersama dua orang temannya yaitu I Kadek Wilas Tantra
(16) dan I Ketut Abiantara (14) berencana untuk pergi melukat setelah melakukan
persembahyangan di rumah masing-masing. Sekitar pukul 11:00 mereka bertiga berangkat
dengan dua sepeda motor ke Pantai Jasri. Awalnya sebenarnya mereka berencana
untuk pergi ke pantai pasir putih yang ada di desa Bugbug Karangasem, namun
atas permintaan korban mereka bertiga pun lalu ke pantai Jasri. “Awalnya kami
berencana ke pantai pasir putih, namun Nik (korban) memutuskan agar melukat di
pantai jasri” Ujar Kadek Wilas Tantra saat ditemui di RSUD Karangasem.
Bedasarkan penuturan
Wilas, sesampainya di lokasi mereka awalnya jalan-jalan sebentar lalu
memutuskan untuk mandi. Sebenarnya Wilas dan Abiantara enggan untuk mandi di
laut karena saat itu ombaknya cukup besar. Namun karena ajakan dari korban yang
bergitu tinggi maka, mereka berdua ikut melepas pakaian adat dan mandi di
tengah laut. Disampaikan oleh Wilas korban mengajaknya untuk mandi ke tengah
laut. Namun karena tidak terlalu bisa
berenang , ia menolak tawaran korban. “Saya diajak berenang ke tengah tapi saya
tidak mau karena saya tidak begitu bisa berenang” ujarnya mengingat-ingat awal
kejadian maut tersebut. Kendati demikian, korban terus saja berenang ke tengah
laut, sementara Wilas dan Abiantara hanya berenang di pingir-pinggir. Naas pun
menimpa korban karena arus gelombang terlalu besar sehingga menghempaskan tubuh
korban. Korban diduga mengalami benturan dengan batu karang sehingga kehilangan
tenanga untuk kembali ke daratan. Terbukti wajah korban mengalami memar dan
dari hidung serta mulut korban mengeluarkan darah. Selanjutnya tubuh korban tenggelam
dan terus tergerus ke tengah laut akibat arus gelombang yang cukup besar.
Mendapati temannya sudah
menghilang digulung gelombang, Wilas Tantra dan Abiantara panik. Mereka berdua cepat-cepat
menyampaikan kejadian tersebut kepada warga sekitar yang juga sedang mandi di
pantai tersebut. Namun warga yang melakukan pencarian tidak menemukan tubuh
korban samapai akhirnya memanggil bantuan tim Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD) Karangasem.
Kepala BPBD Karangasem,
Ida Ketut Arimbawa menyampaikan bahwa pihaknya mendapatkan laporan warga sekitar
pukul 13:00 Wita bahwa ada korban terseret arus laut di pantai Jasri. Mendapati
laporan tersebut pihaknya mengaku langsung menerjunkan 15 orang personil dari
ESR maupun unit Balawista BPBD. “Setelah kami lakukan pencarian sekitar 45
menit bersama warga dan tim dari kepolisian kemudian kami temukan ada sososok
mayat yang mengapung di tengah laut” ujarnya. Setelah dicek ternyata mayat yang
ditemukan adalah korban kemudian pihaknya membawa mayat korban ke RSUD Karangsem
untuk mendaptkan pemeriksaan. “Setelah kita evakuasi korban dari tengah laut
lalu kami bawa ke RSUD Karangasem untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut”
ujarnya.
Tim dokter RSUD
Karangasem yang memeriksa korban, yaitu dr. Ari Sujati menyampaikan bahwa ketika
sampai di UGD korban sudah dalam keadaan meninggal. Korban banyak kemasukan air pada bagian saluran
pernapasan. Selain itu disampaikan pada hidung dan mulut korban terus
mengeluarkan darah diduga akibat benturan sebelum korban meninggal.
Sementara keluarga korban
merapati sedih keluarganya telah meninggal. Ayah korban yaitu I Wayan Sujana tidak
bisa menutupi kesedihannya lantaran anak pertamanya itu berpulang lebih awal. Kesedihan
yang mendalam juga terpancar pada wajah Ibu korban yaitu Ni Wayan Mariani.
Mariani terus saja menagis sedih seakan tidak percaya kalau satu-satunya putra
dari 4 anaknya itu telah tiada untuk selama-lamanya. Pihak keluarga mengaku masih
berunding untuk mencari hari pemakaman korban karena saat ini masih dalam rangkaian
hari raya Kuningan. *








0 komentar:
Posting Komentar