Laman

Laman

Selasa, 23 Desember 2014

Penampilan Sekea Genjek Munti Gunung Memukau Ibu-ibu

AMLAPURA – Ada penampilan yang menarik dalam acara resepsi HUT Hari Ibu yang ke-86 yang diselenggarakan pemerintah kabupaten Karangasem, Senin (22/12) kemarin. Dalam acara yang digelar di gedung wantilan DPRD Karangasem tersebut diisi atraksi kelompok (sekea) genjek anak-anak dari dusun Munti Gunung, Desa Tiayar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem. Anak-anak yang masih berusia 10-12 tahun tersebut dengan apik melantunkan tembang genjek yang dikolaborasikan melalui suara-suara padu berirama dari 17 pesertanya. 
Kendati berasal dari daerah terpencil, namun penampilan anak-anak desa Munti tersebut tidak ada yang terlihat canggung atau demam panggung. Tak pelak atraksi genjek cilik tersebut berhasil memukau ratusan penonton yang hadir, termasuk Istri dari Bupati Karangasem, Ibu Sujiani Geredeg. Bahkan Ibu Sujiani Gerede ikut larut dalam lantunan lagu sekea genjek dengan ikut ngibing dalam acara tersebut. Sujiani secara spontan lalu melakukan apresiasi dengan memberikan penghargaan berupa uang tunai kepada penari genjek yang menurutnya sangat bagus dan menghibur penonoton. “Saya rasa genjek ini patut dilestarikan sebagai sebuah tradisi dan budaya warisan leluhur” Ujar Sujiani Geredeg saat ditemui seusai acara.
        Di sisi lain, pembina dari Sekea Genjek anak-anak Munti Gunung yaitu I Wayan Mudung menyampaikan bahwa penampilan sekea genjek anak-anak Munti Gunung dalam acara HUT Hari Ibu tidak terlepas dari peranan Nyonya Sumawati Sukerana. Sebab Sumawati Sukerana yang berperan aktif dalam rumah pintar Munti Gunung mendapatkan laporan bahwa sekea genjek anak-anak Munti Gunung berhasil meraih juara satu dalam lomba genjek tingkat kecamatan Kubu dalam acara HUT PGRI lalu. “Sebelumnya kami mendapatkan juara satu dalam lomba genjek di Kecamatan Kubu, makanya kami diundang tampil di sini oleh Bu Wakil (Sumawati Sukerana)” Ujarnya. Wayan Mudung yang juga sebagai guru di SDN 6 Tiayar Barat tersebut menyampaikan bahwa tertarik untuk mengembangkan genjek karena merupakan tradisi dan budaya yang patut dipertahankan di masyarakat. “Ketika saya perkenalkan genjek pada anak-anak ternyata banyak yang suka, maka mereka langsung saya bina” akunya.
           Sementara itu menurut salah satu peserta sekea genjek, I Ketut Sari Wenten menyampaikan bahwa tidaklah sulit melakukan genjek. Siswa kelas 5 SD tersebut menyebutkan kalau genjek itu kuncinya adalah kerjasama dan kekompakan. “Genjek itu perlu kerjasama agar genjeknya terdengar bagus” ujarnya polos. Sari wenten menyampaikan bahwa dari 17 orang semuanya memiliki tugas yang berbeda yaitu satu orang tukang gending, satu orang tukang klempung, 3 orang tukang toreng,  dan sisanya tukang kopak. “Tukang kopak itu paling banyak karena setiap orang mengucapkan kopak berbeda-beda” ungkapnya. Sari Wenten mengaku dirinya dengan temannya tidaklah lama mempersiapkan genjek hingga tampil meraih juara di Kecamatan Kubu. ”Kami latihan satu bulan sudah bisa” ungkapnya.
       Dalam acara HUT hari Ibu kemarin sekea genjek anak-anak Munti Gunung menampilkan tiga tembang genjek yaitu genjek yang berjudul Katuladan, rahajeng aruh dan gending Hari Ibu. Dalam 30 menit penampilannya para penonton terlihat menikmati dan memberikan aplous yang meriah kepada sekea genjek cilik tersebut. *

0 komentar:

Posting Komentar