KARANGASEM, Teropong Amlapura – Musim kemarau tidak hanya menjadi
petaka namun di sisi lain justru menjadi keberuntungan bagi sebagian orang.
Seperti halnya petani di Subak Tibugadang di Desa Tista, Kecamatan Abang,
Karangasem yang bersyukur adanya kemarau. Para petani di subak ini kini dalam
masa panen atas “dagdag” yang mereka petik dari sawah-sawah mereka. “Dagdag”
merupakan daun ubi jalar yang dijual untuk makanan ternak babi. Ubi jalar
dipilih ditanam pada masim kemarau karena tanaman ini kuat dengan panas dan
hanya butuh seidikit suplay air untuk tumbuh lebat.
Selain itu, dari segi ekonomi dan pasar dengan menanam dagdag juga
lebih menguntungkan. Sebab dagdag yang dihasilkan petani di subak
yang berada di perbatasan Desa Tista dengan Desa Laba Sari tersebut senantiasa
diserbu pembeli. Para pengepul senantiasa memburu dagdag dari
petani untuk dijual di Pasar Culik, Pasar Mangsul, dan Pasar Abang.
Nengah Krai salah satu petani di Subak
Tibugadang menyampaikan penghasilan menanam ubi jalar yang dicari daunnya untuk dagdag jauh
menghasilkan daripada menanam padi. Sebab satu cekel dagdag (sekitar
40 batang daun ubi jalar) dijual Rp.25.000. Sementara satu pesel dagdag (kira-kira
250 batang dagdag) dijual ke pengepul Rp.15 ribu rupiah. Oleh sebab
itu, Krai yang berasal dari Dusun Berina, Desa Tista, Kecamatan Abang itu
mengaku bisa meraih laba bersih Rp.1,5 Juta perbulan dari menanam dagdag.
“Sawah saya seluas 5 are, ya sebulan panen dagdag dapat Rp.1,5
Juta,” Ujar Krai saat ditemui sedang mengankat dagdag hasil
panennya. Menurutnya, penghasilannya itu jauh dari penghasilan menanam padi
yang panen hanya 3 bulan sekali dengan pendapatan sekitar Rp.1 juta
rupiah selama tiga bulan.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Nyoman
Sudira yang juga menanam dagdag di sawah miliknya. Pihaknya
menyampaikan bahwa menanam ubi jalar untuk dicari dagdagnya hanya
bisa dilakukan ketika musim panas. Sebab ketika musim hujan, ubi jalar yang
ditanam akan sulit tumbuh dan mati. “Kalau kebanyakan air karena hujan bisa
mati terendam, daunnya juga tidak lebat karena batannya justru tumbuh akar,”
ungkapnya. Pria asal dusun Ancut, Desa Tista, Kecamatan Abang itu mengaku menanam
ubi jalar tidak dicari umbinya namun dijual daunnya. “Yang dijual kan daunnya,
kalau musim hujan daunnya kuning dan batangnya tumbuh akar maka daunnya
sedikit, bisa rugi” ungkapnya. Pihaknya pun menyampakan jika musim hujan dengan
air subak dan hujan yang melimpah akan kembali menanam padi kendati hasilnya
tidak maksimal. *







0 komentar:
Posting Komentar