Laman

Laman

Selasa, 27 Oktober 2015

Musim Kemarau, Petani Lebih Memilih Menanam “Dagdag” daripada Padi

KARANGASEM, Teropong Amlapura – Musim kemarau tidak hanya menjadi petaka namun di sisi lain justru menjadi keberuntungan bagi sebagian orang. Seperti halnya petani di Subak Tibugadang di Desa Tista, Kecamatan Abang, Karangasem yang bersyukur adanya kemarau. Para petani di subak ini kini dalam masa panen atas “dagdag” yang mereka petik dari sawah-sawah mereka. “Dagdag” merupakan daun ubi jalar yang dijual untuk makanan ternak babi. Ubi jalar dipilih ditanam pada masim kemarau karena tanaman ini kuat dengan panas dan hanya butuh seidikit suplay air untuk tumbuh lebat.
Selain itu, dari segi ekonomi dan pasar dengan menanam dagdag juga lebih menguntungkan. Sebab dagdag yang dihasilkan petani di subak yang berada di perbatasan Desa Tista dengan Desa Laba Sari tersebut senantiasa diserbu pembeli. Para pengepul senantiasa memburu dagdag dari petani untuk dijual di Pasar Culik, Pasar Mangsul, dan Pasar Abang.
        Nengah Krai salah satu petani di Subak Tibugadang menyampaikan penghasilan menanam ubi jalar yang dicari daunnya untuk dagdag jauh menghasilkan daripada menanam padi. Sebab satu cekel dagdag (sekitar 40 batang daun ubi jalar) dijual Rp.25.000. Sementara satu pesel dagdag (kira-kira 250 batang dagdag) dijual ke pengepul Rp.15 ribu rupiah. Oleh sebab itu, Krai yang berasal dari Dusun Berina, Desa Tista, Kecamatan Abang itu mengaku bisa meraih laba bersih Rp.1,5 Juta  perbulan dari menanam dagdag. “Sawah saya seluas 5 are, ya sebulan panen dagdag dapat Rp.1,5 Juta,” Ujar Krai saat ditemui sedang mengankat dagdag hasil panennya. Menurutnya, penghasilannya itu jauh dari penghasilan menanam padi yang panen hanya 3 bulan sekali dengan pendapatan sekitar  Rp.1 juta rupiah selama tiga bulan.
      Hal yang sama juga disampaikan oleh Nyoman Sudira yang juga menanam dagdag di sawah miliknya. Pihaknya menyampaikan bahwa menanam ubi jalar untuk dicari dagdagnya hanya bisa dilakukan ketika musim panas. Sebab ketika musim hujan, ubi jalar yang ditanam akan sulit tumbuh dan mati. “Kalau kebanyakan air karena hujan bisa mati terendam, daunnya juga tidak lebat karena batannya justru tumbuh akar,” ungkapnya. Pria asal dusun Ancut, Desa Tista, Kecamatan Abang itu mengaku  menanam ubi jalar tidak dicari umbinya namun dijual daunnya. “Yang dijual kan daunnya, kalau musim hujan daunnya kuning dan batangnya tumbuh akar maka daunnya sedikit, bisa rugi” ungkapnya. Pihaknya pun menyampakan jika musim hujan dengan air subak dan hujan yang melimpah akan kembali menanam padi kendati hasilnya tidak maksimal. *

0 komentar:

Posting Komentar