Laman

Laman

Selasa, 23 Desember 2014

Tinggi, Angka Kematian Ibu Saat Melahirkan Di Karangasem

AMLAPURA – Ada hal yang menarik yang perlu dicermati dari perayaan hari ibu yang dilakukan pada Senin (22/12) lalu. Di balik perayaan yang didedikasikan untuk menghormati jasa dan pengorbanan dari kaum ibu tersebut, ternyata tersimpan PR besar yang harus diperhatikan kaum ibu. Apa yang menjadi perhatian dari kaum ibu adalah masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan yang mengancam jiwanya. Salah satu daerah dimana terjadi tingkat kasus kematian ibu saat melahirkan yang tinggi ternyata ada di Kabupaten Karangasem. “Angka kematian ibu saat melahirkan masih tinggi di Karangasem, untuk tahun 2014 ini tercatat ada 16 kasus kematian ibu saat melahirkan” ujar Ni Wayan Ekawati selaku ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Karangasem saat dikonfirmasi Selasa (23/12) kemarin. 
Berdasarkan data yang dimilikinya tersebut ternyata menempatkan Kabupaten Karangasem sebagai kabupaten yang memiliki angka kematian ibu melahirkan tertinggi di Bali. “Jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya, Karangasem memiliki angka kematian ibu melahirkan tertinggi” ujarnya. Selain itu, bidan delima yang bertugas di Puskesmas Rendang tersebut menyampaikan bahwa tahun 2014 kematian ibu melahirkan meningkat dari tahun sebelumnya dimana tahun 2013 ada 9 kasus kematian ibu melahirkan. “Untuk tahun ini (2014) meningkat menjadi 16 orang” ujarnya.
     Pihaknya menyampaikan bahwa kematian ibu saat melahirkan memang dipengaruhi banyak factor, diantaranya adalah karena usia ibu yang hamil terlalu muda, kurang pengetahuan sang ibu terhadap masalah kehamilan, kurang melakukan cek dan kontol kehamilan, dan akibat sang ibu punya penyakit lain yang berbahaya ketika persalinan. Disampaikan bahwa dari 16 orang Ibu yang meninggal tersebut ternyata 50% diantaranya adalah usia produktif   dibawah 20 tahun. Selain itu, dari data yang dimilikinya tersebut ternyata 90% ibu yang meninggal adalah ibu yang melahirkan bayi pertama.
      Ekawati menyampaikan apa yang menjadi kendala saat ini adalah masih kecilnya edukasi terhadap ibu-ibu hamil. Terutama di desa-desa para ibu-ibu enggan untuk ke puskesmas atau posiandu memeriksakan atau menggontrol kehamilannya karena berbagai alasan mulai karena bekerja mencari nafkah keluarga atau kematangan mental sang ibu yang belum siap karena menikah di usia yang sangat dini. “Kedepan edukasi perlu diberikan kepada masyarakat terkait msalah ibu hamil” Ujarnya. Disampaikan bahwa saat ini sosialisasi sudah ada cuman intensitasnya kurang mengingat tenaga bidan dan penyuluh kehamilan di puskesmas masih terbatas selain karena masyarakat desa yang enggan untuk berkonsultasi tentang kehamilannya. *

0 komentar:

Posting Komentar