AMLAPURA - Embung atau tempat penampungan air buatan yang luas menyerupai waduk
merupakan strategi pemerintah Kabupaten Karangasem dalam mengatasi masalah
krisis air di daerah kering dan di wilayah terpencil. Strategi ini
digadang-gadang sebagai sarana efetif mengatasi masalah air di bumi lahar yang
90% merupakan lahan kering. Terlibih di musim kemarau saat paceklik air, embung seakan menjadi oase di gurun pasir bagi masyarakat di daerah
kering seperti wilayah kecamatan Kubu yang jauh dari sumber air. Selain itu, pembangunan embung juga dinilai sebagai sarana mengurangi kemiskinan karena air
dapat dijadikan sebagai sumber kehidupan misalnya untuk bercocok tanam atau
mememlihara hewan ternak. Oleh karena itu, Pemerintah Karangasem di bawah
Bupati I Wayan Geredeg senantiasa mensuport dan mendukung program pembuatan embung di daerah Karangasem. Oleh karena itu, di tahun 2015
direncanakan akan ada penambahan 2 embung lagi yang
akan dibangun di wilayah Karangasem.
Kabid Sumber Daya Air dinas PU Karangasem, Wedasmara, ST, MT.
menyampaikan pembangunan 2 embung baru di tahun
2015 yang direncanakan akan dibangun di Desa Batu Dawa, Kecamatan Kubu dan di
Desa Untulan, Kecamatan Selat. “Pembangunan embung baru di tahun
2015 direncanakan di Desa Batu Dawa, Kecamatan Kubu dan di Desa Untalan,
Kecamatan Selat” ujar Wedasmara, saat dikonfirmasi, Minggu (4/1) kemarin. Dua
pembangunan embung tersebut masing-masing disiapkan dana 7 Miliar yang akan dibiayai
dari APBN melalui PU Pusat di bawah pelaksana Balai Wilayah Sungai Bali Penida.
Wedasmara menyampaikan sejak tahun 2010, di Karangasem sudah dibangun 19 embung yang tersebar di 8 Kecamatan di Karangasem. Embung tersebut 11
dibangun oleh PU pusat melalui Balai Air Sungai Bali Penida, 4 dibangun pihak
Provinsi, dan 4 lagi dibangun oleh pemerintah Kabupaten Karangasem. “Sebagian
besar memang dibangun oleh pusat karena dananya cukup tinggi yaitu sekitar 5-7
Miliar rupiah” ujarnya. Tingginya biaya pembangunan embung karena berbagai
bahan pembangunan yang diperlukan menguras dana yang tidak sedikit. Wedasmara menyampaikan embung yang dibangun membutuhkan biaya pembebasan lahan, pembangunan
bendung penangkap, penyaluran pipa transmisi, dan kolam embung yang alasnya dilapisi dengan geomembran. Kendati geomembran
mahal, Wedasmara menyampaikan bahwa penggunaan geomembran tersebut dimaksudkan
agar air yang tertampung dalam embung dapat dengan
maksimal tertampung. “Lebih baik pakai geomembran sebagai alasnya, jika
dibandingkan menggunakan alas tanah maka airnya cepat berkurang dan jika
dibeton maka akan retak-reka ketika musim kering” ujarnya meyakinkan
Wedasmara
menyampaikan bahwa antosiasme masyarakat Karangasem terhadap embung sangat tinggi mengingat banyak usulan yang masuk ke Pemerintah
darah agar dibangun embung di darahnya. Wedasmara
menyampaikan setidaknya masih ada 10 usulan dari masyarakat yang akan
ditindaklanjuti oleh pihak pemerintah Karangasem untuk dibangunkan embung baru. “Pembangunan embung ini disambut baik masyarakat,
sekarang masih ada 10 usulan pembangunan embung yang masih menunggu giliran
realisasi” ujarnya. *







0 komentar:
Posting Komentar