Laman

Laman

Senin, 12 Januari 2015

Embung Solusi Atasi Masalah Kekeringan Di Karangasem

AMLAPURA - Embung atau tempat penampungan air buatan yang luas menyerupai waduk merupakan strategi pemerintah Kabupaten Karangasem dalam mengatasi masalah krisis air di daerah kering dan di wilayah terpencil. Strategi ini digadang-gadang sebagai sarana efetif mengatasi masalah air di bumi lahar yang 90% merupakan lahan kering. Terlibih di musim kemarau saat paceklik air, embung seakan menjadi oase di gurun pasir bagi masyarakat di daerah kering seperti wilayah kecamatan Kubu yang jauh dari sumber air. Selain itu, pembangunan embung juga dinilai sebagai sarana mengurangi kemiskinan karena air dapat dijadikan sebagai sumber kehidupan misalnya untuk bercocok tanam atau mememlihara hewan ternak. Oleh karena itu, Pemerintah Karangasem di bawah Bupati I Wayan Geredeg senantiasa mensuport dan mendukung program pembuatan embung di daerah Karangasem. Oleh karena itu, di tahun 2015 direncanakan akan ada penambahan 2 embung lagi yang akan dibangun di wilayah Karangasem.
Kabid Sumber Daya Air dinas PU Karangasem, Wedasmara, ST, MT. menyampaikan  pembangunan 2 embung baru di tahun 2015 yang direncanakan akan dibangun di Desa Batu Dawa, Kecamatan Kubu dan di Desa Untulan, Kecamatan Selat. “Pembangunan embung baru di tahun 2015 direncanakan di Desa Batu Dawa, Kecamatan Kubu dan di Desa Untalan, Kecamatan Selat” ujar Wedasmara, saat dikonfirmasi, Minggu (4/1) kemarin. Dua pembangunan embung tersebut masing-masing disiapkan dana 7 Miliar yang akan dibiayai dari APBN melalui PU Pusat di bawah pelaksana Balai Wilayah Sungai Bali Penida.
        Wedasmara menyampaikan sejak tahun 2010, di Karangasem sudah dibangun 19 embung yang tersebar di 8 Kecamatan di Karangasem. Embung tersebut 11 dibangun oleh PU pusat melalui Balai Air Sungai Bali Penida, 4 dibangun pihak Provinsi, dan 4 lagi dibangun oleh pemerintah Kabupaten Karangasem. “Sebagian besar memang dibangun oleh pusat karena dananya cukup tinggi yaitu sekitar 5-7 Miliar rupiah” ujarnya. Tingginya biaya pembangunan embung karena berbagai bahan pembangunan yang diperlukan menguras dana yang tidak sedikit.  Wedasmara menyampaikan embung yang dibangun membutuhkan biaya pembebasan lahan, pembangunan bendung penangkap, penyaluran pipa transmisi, dan kolam embung yang alasnya dilapisi dengan geomembran. Kendati geomembran mahal, Wedasmara menyampaikan bahwa penggunaan geomembran tersebut dimaksudkan agar air yang tertampung dalam embung dapat dengan maksimal tertampung. “Lebih baik pakai geomembran sebagai alasnya, jika dibandingkan menggunakan alas tanah maka airnya cepat berkurang dan jika dibeton maka akan retak-reka ketika musim kering” ujarnya meyakinkan
       Wedasmara menyampaikan bahwa antosiasme masyarakat Karangasem terhadap embung  sangat tinggi mengingat banyak usulan yang masuk ke Pemerintah darah agar dibangun embung di darahnya. Wedasmara menyampaikan setidaknya masih ada 10 usulan dari masyarakat yang akan ditindaklanjuti oleh pihak pemerintah Karangasem untuk dibangunkan embung baru.  “Pembangunan embung ini disambut baik masyarakat, sekarang masih ada 10 usulan pembangunan embung yang masih menunggu giliran realisasi” ujarnya. *

0 komentar:

Posting Komentar