KARANGASEM, Teropong Amlapura – Meski tahun baru 2015
sudah lama berlalu, namun demam ledakan petasan, kembang api, dan lomloman ternyata
belum juga berakhir. Buktinya kegiatan membungikan suara menggelegar itu masih sering
terdengar di telinga. Seperti halnya yang dilakukan oleh I Gede Suardika (13)
anak yang tinggal di Dusun Gunaksa, Desa
Ababi, Kecamatan Abang, Karangasem, Kamis (15/1) kemarin.
Namun naas, karena terlalu keasikan main
lomloman spritus, Siswa kelas VII SMP 1 Abang itu tubuhnya melepuh terbakar
akibat sambaran api spritus yang
menyembur ke arah tubuhnya. Rupanya ledakan spritus tidak kearah depan namun
malah berbalik ke belakang dan merusak tutup lomloman yang terbuat dari botol plastik
tersebut. Atas kejadian tersebut, korban mengalami luka bakar di bagian
tubuhnya sebelah kanan terutama tangan, dada, perut, leher dan telinganya. Jari
tangan kananya juga terlihat melepuh terkena cipratan api spritus yang panas.
Korban pun dilarikan ke RSUD Karangasem sekitar pukul 10:00 Wita untuk
mendapatkan perawatan karena luka yang dialaminya cukup serius.
Berdasarkan
keterangan Nyoman Suta (60) yang merupakan paman korban menyampaikan bahwa Gede
Suardika memiliki lomloman sudah sejak menjelang perayaan tahun baru 2015 yang
merupakan hadiah dari bapaknya yang bekerja di denpasar. “Lomloman itu diberi
oleh bapaknya yang bekerja di denpasar” Ujar Suta yang menyampaikan bahwa
dirinya sudah mengajak ponakannya itu sejak masih balita kerena ditinggal
merantau oleh bapak dan ibunya bekerja di Denpasar. Suta menyampaikan kalau
dirinya di rumah selalu melarang korban untuk bermain lomloman. “Kalau saya di
rumah dia (Suardika) selalu saya larang untuk bermain lomloman” tuturnya.
Begitu
juga dengan pengakuan Ni Nengah Sasih (60) yang merupakan bibi dari korban.
Sasi menyampaikan bahwa ketika kejadian terjadi sekitar pukul 10:00 Wita itu dirinya
sedang metulung (bergotongroyong) di tetangnyanya untuk buat banten mau ada
upacara pernikahan. “Pas kejadian saya tidak ada di rumah karena sedang metulung
di tetangga buat banten untuk acara pernikahan, kalau saya di rumah pasti sudah
saya larang (bermain lomloman)” ujarnya.
Korban
pun terus saja merintih kesakitan karena kulitnya melepuh bekas terbakar.
Korban selalu meminta dikipas untuk menahan rasa perih di tangan, dada, leher
dan telinganya yang terkena cipratan api spritus. Pihak dokter dari RSUD Karangasem
menyampaikan bahwa korban mengalami luka sekitar 15 persen dari tubuhnya dan berada
pada posisi luka bakar grade 2. “Pasien mengalami luka bakar cukup serius
sekitar 15 persen dari tubuhnya, yang paling berat lukanya di dada” Ujar Dokter
Made Ari Rujati yang menangani korban. Pihaknya menyampaikan bahwa kesembuahan
luka korban memerlukan waktu yang cukup lama mengingat luka yang dihasilkan itu
sampai menyentuh lapisan kulit bagian dalam sehingga menimukan
gelembung-gelembung cairan. “Kesembuahnnya sendiri tergantung kondisi pasien,
butuh waktu beberapa hari untuk pemulihan” Tuturnya. *







0 komentar:
Posting Komentar