Laman

Laman

Selasa, 27 Januari 2015

Prosesi Unik Pecaruan Agung Ngusaba Kaulu di Desa Adat Asak Karangasem, Ratusan Pemuda Beramai-ramai “Nyepegin” Sapi Jantan untuk Caru

KARANGASEM, Teropong Amlapura – Beberapa daerah di Bali memiliki tradisi unik dalam setiap pelaksanaan upacara Agama. Seperti halnya prosesi unik yang dilakukan oleh krama Desa Adat Asak, Desa Pertima, Kecamatan Karangasem dalam upacara Pecaruan Agung Ngusaba Kaulu yang dilaksanakan, Minggu (25/1) kemarin. Seperti apa ceritanya berikut ini laporannya. 
Ada hal yang lain dari yang lain dalam upacara pecaruan yang dilakukan di Pura Patokan Truna yang ada di Balai Banjar desa Adat Asak. Sebab dalam pecaruan itu disiapkan sapi jantan besar yang sebelum dipakai caru lebih dulu “dibantai” terlebih dahulu oleh ratusan pemuda desa Asak yang telah dari pagi siap dengan penyepegan sapi  (sejenis pisau besar) ditangannya. Para pemuda tersebut menggunakan kamben hitam dan saput poleng dengan atasan tanpa baju yang diakui sebagai pakaian khusus yang hanya diapakai untuk upacara ngusaba kaulu saat prosesi “pembantai” sapi tersebut. Hal yang tidak lazim tersebut tentu mengundang banyak jurnalis dan fotografer termasuk wisatawan untuk mengabadikan acara itu.
         Sekitar pukul 10:00 Wita sapi jantan besar berwarna hitam itu terlebih dahulu diupacarai Pura Patokan Truna di Balai Banjar setempat dengan berbagai banten dipuput oleh Jero Mangku Wayan Gedur. Sapi yang dibeli krama desa seharga Rp.13 juta itu memiliki berat sekitar setengah ton. Setelah upacara selesai, Sapi berwarna hitam yang dikenakan kain dan kepalanya diisi symbol suastika itu sengaja dilepas lalu kemudian para pemuda menikamkan pisau besar (nyepegin) sapi tersebut. Tubuh sapi terlihat terluka dan darah berceceran dimana-mana sementara para pemuda bersorak-sorak gembira. Para pemuda yang berhasil menebaskan senjatanya kepada tubuh sapi dipercaya nantinya mendapatkan keselamatan dan kepercayaan diri dalam hidupnya. Seperti yang diungkapakan oleh salah seorang pemuda yang ikut prosesi tersebut yaitu Gede Candra Dinata. “Saya dapat menebas sekali” ujarnya sambil tersenyum. Pihaknya mengaku melakukan hal itu karena sebuah tradisi yang patut dilestrikannya. “Upacara ini sebuah tradisi yang hanya ada di sini (Desa Asak) jadi saya sebagai generasi muda patut ikut melestarikannya” ungkap Candra.
       Sementara itu, dicari dari filosofi mengapa diadakan pecaruan Agung dengan caru sapi jantan yang ditebas oleh ratusan pemuda, Bendesa Adat Asak, I Nyoman Winata menyampaikan bahwa hal itu sudah tradisi. Dijelaskan bahwa memang setiap tahun yaitu setiap sasih kaulu pananggal ping 6 nuju beteng dilakukan upacara pecaruan agung di Pura Patokan Truna di Balai Banjar Asak. Disampaikan bahwa pecaruan itu penting dilakukan mengingat untuk menetralisir kekuatan jahat para buta kala yang ada di sewewengkon Desa Asak. “Pecaruan itu untuk mentralisir kekuatan jahat yang ada di sini, ini sudah tradisi dari dulu, kalau tidak dilakukan bisa menimbulkan marabahaya kalau istilah Nak lingsir Gerubug Gering” ujarnya. 
         Disampaikan bahwa prosesi pecaruan diawali dengan sapi jantan yang dilepas lalu dibunuh beramai-ramai juga memilikiki makna religius. Menurut Winanta bahwa hal tersebut dilakukan mengingat sapi yang dilepas itu bukanlah sapi sembarangan. “Sapi itu bukan sapi sembarangan, harus dicari sapi yang besar dan tanpa cacat selain itu dipelihara satu minggu oleh pemuda dan sebelum dijadikan caru dibuatkan dulu banten dan upacara khusus” ungkapnya. Disampaikan bahwa sapi yang dilepas lalu  dibunuh itu adalah sapi yang sudah diberkati Ida Betare sehingga tetesan darahnya itu selain sebagai caru juga untuk kesuburan dan kemakmuran di desa Adat Asak yang terdisi dari dua banjar dan dihuni oleh 580 KK tersebut. “Kami percaya bahwa setiap tetesan darah dari sapi itulah yang menetralisir kekuatan jahat, itu caru yang alami selain itu dimanampun darah menetes disana akan memberikan kesuburan dan kemakmuran” ungkapnya.
         Selain itu, tidak sembarangan orang boleh yang melakukan penyepegan (menebas) sapi. “Orang-orang yang boleh nyepeg (menebas) sapi itu tidak sembarangan, harus orang muda yang belum menikah” ujarnya. Selain itu dalam melakukan penyepegan juga ada berbagai aturan mengikat. Disampaikan bahwa sapi yang dilukai di dalam areal pura Patokan Truna harus membayar denda setengah harga sapi. Jika dilukai areal lawangan pemeson pura dikenakan denda Rp.400 ribu. Dan kalau ada yang melukai sapi masih di dalam areal batas desa adat asak maka akan dikenakan denda Rp.100 ribu rupaiah. Kalau disepeg di luar areal desa baru tidak kena denda. Selain itu disampaikan jika ada yang menyepeg samapi meutuskan ekor sapi maka yang bersangkutan harus mengganti dengan sapi baru. 
        Kendati ada aturan tersebut namun para pemuda rupanya tidak hirau dengan denda, sebab ketika sapi baru keluar dari halaman pura sudah berkali-kali ditikam dengan pisau besar oleh ratusan pemuda yang sudah siap menunggu kedatangan sapi. Sapi yang berlari terkena tikaman puluhan pemuda yang berjejer di sepanjang jalan desa sehingga darahnya berceceran di sepanjang jalan. Sapi tidak sempat keluar batas desa karena beberapa pemuda di ujung desa menghadang sapi sehingga tidak bisa kemana-mana lalu dibantai di Depan Pura Balai Agung sekitar 200 meter dari pura Patokan Truna. Sapi pun dikuliti kemudian pada soreharinya dijadikan caru. Sementara daginggnya akan diolah oleh krama keesokan harinya untuk dimakan bersama. *

0 komentar:

Posting Komentar