AMLAPURA - Kesenian Sakral Gebug Seraya yang
hanya ada di desa Adat Seraya, Kabupaten Karangasem patut dijaga kelestariannya. Sebab ada
indikasi bahwa kesakralan Tarian Gebug Seraya yang bertujuan untuk mengundang
atau memanggil hujan itu mulai lenyap seiring perkembangan zaman. Oleh sebab
itu, Pihak Desa Adat Seraya mengadakan festival Gebug Seraya yang bertujuan
untuk menyelamatkan warisan leluhur yaitu mengembalikan tradisi dan seni dari
tarian Gebug Seraya untuk kembali ke esensi awalnya yaitu sebagai ritual yang
sacral untuk memanggil hujan. Acara Festifal yang rencananya akan dilaksanakan
selama 2 hari (6 dan 7 Oktober 2014) dengan melibatkan puluhan peserta tersebut
dibuka oleh Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg di Gor Seraya Barat, Karangasem,
Senin (6/10) kemarin.
Ketua panitia
acara, I Wayan Supartama tidak menampik mulai adanya pergeseran yang terjadi
dari tujuan awal tarian gebug seraya. Wayan Supartama menyampaikan bahwa bahwa
adanya ritual tarian gebug adalah sebuah ritual untuk memohon hujan di musim
kemarau yang berkepanjangan. Biasanya dilaksanakan pada sasih kapat ketika
musim kering benar-benar melanda warga Seraya. “Biasanya tarian gebug seraya
dilakukan warga untuk memohon hujan” ujarnya. Namun tarian itu belakangan hanya
dilaksanakan untuk keerluan pesanan pelaku pariwisata dan untuk acara festival
tujubelas agustusan. Supartama pun menginginkan tarian gebug Seraya dapat
dilakukan sebagai ritual dan tradisi yang sacral. Artinya tidak dilaksanakan di
sembarang tempat sehingga mengurangi esensi kesakralannya sebagai kegiatan
untuk memohon hujan. Sebab dulu ketika kegiatan gebug itu dilakukan sehari
setelahnya langsung turun hujan di wilayah seraya. “Masyarakat di sini memiliki
kepercayaan kalau melaksanakan gebug maka akan mengundang hujan” ungkapnya. Turunnya
hujan dipercaya akan terjadi apalagi ketika salah seorang peserta gebug terluka
dan meneteskan darah di arena gebug.
Supartama yang menggagas acara festival gebug seraya tersebut
menginginkan agar nantinya wisatawanlah yang datang untuk menyaksikan gebug di
Seraya bukan dipanggil untuk pentas di tempat tertentu. Sehingga pihaknya
menyampaikan bahwa acara festival gebug seraya akan dilaksanakan secara rutin
setiap tahun untuk tradisi memohon hujan dan juga sebagai penunjajng seni dan
budaya yang boleh juga diintegrasikan dengan kalangan pariwisata. “Biar nanti
wisatawan yang ke sini untuk menonton Gebug Seraya” ujarnya.
Supartama menyampaikan walaupun dalam tarian tersebut
terlihat saling pukul namun tidak boleh ada dendam diantara sesama. Sebab
setelahnya para peserta selesai mereka bersalaman dan bermaaf-maafan.
kendatipun ada yang terluka karena terkena pukulan rotan namun setelah diobati
dengan daun dapdap dan kunyit maka akan hilang dengan sendirinya.
Di sisi lain, Nengah Pringgo yang merupakan Tokoh Desa Adat
Seraya menyampaikan bahwa tradisi gebug seraya selain memiliki fungsi spiritual
juga memiliki fungsi seni yaitu karena berupa tarian yang ditarikan oleh dua
orang dengan mebawa tongkat dari penyalin dan tameng pelindung berdiametr 100
cm terbuat dari bambu dan kulit sapi. Pringgo menyampaikan bahwa Gebug seraya
juga dipakai sebagai ajang unjuk kekuatan sehingga siapa yang menang dalam
gebug apalagi memukul areal kepala lawan akan dihormati dan disegani oleh warga
desa. Sebab Pringgo menuturkan bahwa awal tarian itu muncul adalah diilhami
dari perang yang dilakukan Karangasem
yang menjajah ke wilayah Lombok. Penyerangan ke Lombok tersebut hanya
menggunakan 40 orang dari desa Seraya yang disebut Pasukan Seraya petangdasa
yang kebanyakan menggunakan senjata gebug. Sepulang dari membawa kemenangan acara
gebug pun mulai popular dilakukan. Bahkan menjadi tradisi turun termurun di
daerah Seraya, Kecamatan Karangasem.
Sementara itu, Bupati Karanagsem I Wayan Geredeg
dalam sambutannya menyampaikan bahwa tradisi Gebug Seraya patut dijaga
keberadaannya. Geredeg menghimbau agar gebug seraya dihak patenkan sehingga
nanti tidak diklaim oleh daerah atau Negara lain. Geredeg berharap gebug seraya
yang jadi satu-satunya tradisi dan budaya yang diwujudkan dengan tarian dengan
tameng dan tongkat tersebut agar tetap lestari. Geredeg pun menekankan agar para generasi muda dijelaskan
sejak dini tentang makna dan falsafah gebug seraya sehingga nantinya bisa ikut
menjaga tradisi gebug agar tidak bergeser atau punah di kemudian hari. Dalam
acara tersebut Bupati Geredeg menyerahkan batuan senilai 30 juta rupaiah pada
panitia yang merupakan bantuan dari Provinsi Bali senilai 20 juta dan bantuan
dari Pemerintah Kabupaten Karnagasem senilai 10 juta rupiah.








0 komentar:
Posting Komentar