Laman

Laman

Minggu, 12 Oktober 2014

Festival Gebug Seraya, Upaya Menggembalikan Warisan Leluhur yang Diserang Perubahan Zaman


AMLAPURA - Kesenian Sakral Gebug Seraya yang hanya ada di desa Adat Seraya, Kabupaten Karangasem  patut dijaga kelestariannya. Sebab ada indikasi bahwa kesakralan Tarian Gebug Seraya yang bertujuan untuk mengundang atau memanggil hujan itu mulai lenyap seiring perkembangan zaman. Oleh sebab itu, Pihak Desa Adat Seraya mengadakan festival Gebug Seraya yang bertujuan untuk menyelamatkan warisan leluhur yaitu mengembalikan tradisi dan seni dari tarian Gebug Seraya untuk kembali ke esensi awalnya yaitu sebagai ritual yang sacral untuk memanggil hujan. Acara Festifal yang rencananya akan dilaksanakan selama 2 hari (6 dan 7 Oktober 2014) dengan melibatkan puluhan peserta tersebut dibuka oleh Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg di Gor Seraya Barat, Karangasem, Senin (6/10) kemarin.
Ketua panitia acara, I Wayan Supartama tidak menampik mulai adanya pergeseran yang terjadi dari tujuan awal tarian gebug seraya. Wayan Supartama menyampaikan bahwa bahwa adanya ritual tarian gebug adalah sebuah ritual untuk memohon hujan di musim kemarau yang berkepanjangan. Biasanya dilaksanakan pada sasih kapat ketika musim kering benar-benar melanda warga Seraya. “Biasanya tarian gebug seraya dilakukan warga untuk memohon hujan” ujarnya. Namun tarian itu belakangan hanya dilaksanakan untuk keerluan pesanan pelaku pariwisata dan untuk acara festival tujubelas agustusan. Supartama pun menginginkan tarian gebug Seraya dapat dilakukan sebagai ritual dan tradisi yang sacral. Artinya tidak dilaksanakan di sembarang tempat sehingga mengurangi esensi kesakralannya sebagai kegiatan untuk memohon hujan. Sebab dulu ketika kegiatan gebug itu dilakukan sehari setelahnya langsung turun hujan di wilayah seraya. “Masyarakat di sini memiliki kepercayaan kalau melaksanakan gebug maka akan mengundang hujan” ungkapnya. Turunnya hujan dipercaya akan terjadi apalagi ketika salah seorang peserta gebug terluka dan meneteskan darah di arena gebug.
      Supartama yang menggagas acara festival gebug seraya tersebut menginginkan agar nantinya wisatawanlah yang datang untuk menyaksikan gebug di Seraya bukan dipanggil untuk pentas di tempat tertentu. Sehingga pihaknya menyampaikan bahwa acara festival gebug seraya akan dilaksanakan secara rutin setiap tahun untuk tradisi memohon hujan dan juga sebagai penunjajng seni dan budaya yang boleh juga diintegrasikan dengan kalangan pariwisata. “Biar nanti wisatawan yang ke sini untuk menonton Gebug Seraya” ujarnya.
     Supartama menyampaikan walaupun dalam tarian tersebut terlihat saling pukul namun tidak boleh ada dendam diantara sesama. Sebab setelahnya para peserta selesai mereka bersalaman dan bermaaf-maafan. kendatipun ada yang terluka karena terkena pukulan rotan namun setelah diobati dengan daun dapdap dan kunyit maka akan hilang dengan sendirinya.
   Di sisi lain, Nengah Pringgo yang merupakan Tokoh Desa Adat Seraya menyampaikan bahwa tradisi gebug seraya selain memiliki fungsi spiritual juga memiliki fungsi seni yaitu karena berupa tarian yang ditarikan oleh dua orang dengan mebawa tongkat dari penyalin dan tameng pelindung berdiametr 100 cm terbuat dari bambu dan kulit sapi. Pringgo menyampaikan bahwa Gebug seraya juga dipakai sebagai ajang unjuk kekuatan sehingga siapa yang menang dalam gebug apalagi memukul areal kepala lawan akan dihormati dan disegani oleh warga desa. Sebab Pringgo menuturkan bahwa awal tarian itu muncul adalah diilhami dari perang yang dilakukan Karangasem  yang menjajah ke wilayah Lombok. Penyerangan ke Lombok tersebut hanya menggunakan 40 orang dari desa Seraya yang disebut Pasukan Seraya petangdasa yang kebanyakan menggunakan senjata gebug. Sepulang dari membawa kemenangan acara gebug pun mulai popular dilakukan. Bahkan menjadi tradisi turun termurun di daerah Seraya, Kecamatan Karangasem.
   Sementara itu, Bupati Karanagsem I Wayan Geredeg dalam sambutannya menyampaikan bahwa tradisi Gebug Seraya patut dijaga keberadaannya. Geredeg menghimbau agar gebug seraya dihak patenkan sehingga nanti tidak diklaim oleh daerah atau Negara lain. Geredeg berharap gebug seraya yang jadi satu-satunya tradisi dan budaya yang diwujudkan dengan tarian dengan tameng dan tongkat tersebut agar tetap lestari. Geredeg pun  menekankan agar para generasi muda dijelaskan sejak dini tentang makna dan falsafah gebug seraya sehingga nantinya bisa ikut menjaga tradisi gebug agar tidak bergeser atau punah di kemudian hari. Dalam acara tersebut Bupati Geredeg menyerahkan batuan senilai 30 juta rupaiah pada panitia yang merupakan bantuan dari Provinsi Bali senilai 20 juta dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Karnagasem senilai 10 juta rupiah. 

0 komentar:

Posting Komentar