Laman

Laman

Selasa, 14 Oktober 2014

Monyet Mengamuk Di Lempuyang Suatu Keanehan

AMLAPURA – Monyet di Lempuyang yang mulai mengamuk dan memakan banyak korban mulai menyita perhatian masyarakat. Tidak hanya masarakat Lempuyang memikirkan masalah itu, namun juga menjadi perhatian khusus para pengampu kebijakan tidak terkecuali Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg. Bupati Geredeg dalam acara simakrama Gubernur Bali, sabtu (30/8) kemarin sempat menyingung masalah ganasnya pasukan wenara yang ada di Lempuyang. “Ada sesuatu yang salah mengapa itu bisa terjadi” ujarnya seraya mengajak semua pihak untuk ikut bersama mencarikan solusi yang terbaik mengatasi masalah serius tersebut. 
“Masalah monyet nakal yang menggigit para pemedek dan bahkan pecalang ini perlu memang segera kita carikan solusi” ujarnya yang tidak ingin peristiwa yang sama terulang kembali. Sebab dari tahun 2013 tercatat ada 35 kasus gigitan jero sedahan yang terjadi di lempuyang. Terakhir pada kamis (28/8) lalu, jero sedahan menggigit seorang pecalang. Bahkan kejadiannya terjadi di utama mandala Pura Lempuyang Luhur yang dikenal pula sebagai Pura Tirta Pingit. Oleh adanya kejadian itu, Geredeg menyakapi hal tersebut sebagai suatu keanehan atau kejanggalan dimana peristiwa tersebut terjadi pada wilayah yang suci. Geredeg memiliki pemikiran ada penyebab kasat mata atau secara niskala terhadap rentetan peristiwa galaknya monyet di Lempuyang.
      Bupati di Bumi Lahar tersebut menyampikan bahwa kesucian pura lempuyang perlu dijaga kembali. Dinilainya selama ini dengan banyaknya para pedagang dan wisatawan yang bebas di sekitar areal pura juga perlu dipikirkan keberadaanya . Sebab adanya banyak pedagang menimbulkan beberapa masalah terutama masalah sampah yang tentunya mengotori sepanjang areal menuju pura yang merupakan wilayah pegunungan. Gunung merupakan areal suci tentu tidaklah tepat jika dikotori dengan sampah sehingga kesuciannya akan berkurang. oleh sebab itu, pihaknya mendesak pemerintah profinsi untuk merealisasikan pembangunan trowongan kawat besi. trowongan tersebut nantinya akan mengamankan para pemdek dari gangguan monyet di Lempuyang. Selain itu, geredeg juga menyiapkan dana pendamping sebanyak 3 miliar untuk merelokasi pedagang yang ada di sepanjang menuju lempuyang untuk dipindahkan ke bawah sehingga terjadi sterilasi di pura lempuyang.
    Sementara itu, Bendesa Adat Lempuyang, I Nyoman Jati menyampaikan rencana pembangunan terowongan kawat besi dari pemerintah telah disetujui oleh krama desa adat Purwayu selaku pengempon yang telah melakukan paruman beberapa hari lalu. Disetujui hal itu mengingat pihaknya tidak bisa lagi memberikan solusi lain yang bisa dilakukan sebab musibah gigitn monyet di Lempuyang sudah sangat banyak yang menapai puluhan orang. Jati menyampaikan usaha sekala dan niskala pun telah dilakukan baik itu menurunkan pecalang, menyewa juru boros bahkan sudah sempat mendatangkan ahli primata untuk melakukan penelitian terhadap monyet di lempuyang. 
      Selain itu secara niskala juga sempat dilakukan dengan melaksanakan berbagai upacara baik itu sudha gumi dan nangluk merana, serta upaya pembangunan pelinggih turus lumbung di jalur rawan namun usaha tersebut belum sepenuhnya berhasil. Apa yang dipesankan Bendesa saat ini adalah semuanya diminta untuk introsepeksi atau mulat sarira apa yang sebenarnya pernah dilakukan untuk menemukan kesalahan pada diri masing-masing. Jati meminta agar para pemedek yang tangkil ke Lemuyang diharapkan bersembahayang dalam pikiran yang bersih, selain itu juga agar berkata-kata yang baik karena memasuki areal suci lempuyang tidaklah boleh berkata sembarangan karena bisa tertimpa musibah. 

0 komentar:

Posting Komentar